08 June 2016

Naik Motor Sekeluarga




Walau mungkin sudah menjadi pemandangan yang lazim, tapi sebagai seorang ayah, saya tetap sedih ketika melihat ada keluarga yang berdesak-desakan sambil naik motor.

Biasanya anak yang lebih besar duduk di paling depan, lalu kemudian ayahnya sebagai pengemudi, disusul oleh anak kedua, dan terakhir sang ibu yang duduk di barisan paling belakang.

Dengan keadaan seperti itu, rasanya tak perlu kita bicara soal faktor keselamatan. Karena model berkendara seperti ini jelas tidak sesuai dengan standar keamanan manapun.

Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan para orang tua yang melakukannya. Saya yakin mereka juga tidak ingin berada dalam kondisi yang demikian. Apalagi sampai harus mempertaruhkan keselamatan anak-anak mereka seperti itu.

Ketika anggota keluarga bertambah, pilihan ideal tentunya berpindah dari motor ke mobil. Tapi dengan harga mobil yang masih saja mahal bagi kebanyakan keluarga Indonesia, naik motor berdesakkan mau-tidak-mau menjadi hal yang paling rasional untuk dilakukan.

Saya yakin para orang-tua menyadari resiko yang dihadapi. Tapi ketika membeli mobil bukanlah solusi yang terjangkau, jawabannya akan selalu kembali ke Mau gimana lagi?

Saya pribadi cenderung menghindari naik motor berdesak-desakan seperti itu. Kalaupun iya, jaraknya pun yang dekat dan hanya untuk keperluan-keperluan kecil. Selebihnya, saya mengusahakan untuk naik angkutan umum atau tidak pergi sama sekali.

Debu, panas, dan polusi udara adalah hal-hal juga menjadi pertimbangan saya untuk meminimalisir jalan-jalan keluarga naik motor. Kalau anak sampai sakit, toh ujung-ujungnya kita juga yang pusing dan cemas.

Entahlah, mungkin saya terlalu takut juga. Tapi yang jelas untuk hal ini, saya akui saya tidak sekuat orang lain yang bisa teguh hati untuk naik motor seperti itu.

Saya hanya bisa mendoakan. Mudah-mudahan para orang-tua yang berada dalam kondisi seperti itu akan cepat dibukakan pintu rejekinya untuk membeli kendaraan yang lebih layak. Jika belum bisa, maka setidaknya anak-anak mereka dijaga kesehatannya oleh Allah (SWT).

Kalau pengalaman Anda sendiri bagaimana?

photo credit: Brilio.net

No comments:

Post a Comment