12 January 2012

Kemiskinan di pusat finansial

Jika kita mengunjungi wilayah SCBD, terutama di sekitar gedung Indonesia Stock Exchange, kita bisa bisa menemukan pemandangan yang miris di hati.

Di antara sibuknya orang-orang yang berpakaian rapih dan datang dengan mobil-mobil mewah mereka, ada sekelompok anak-anak lusuh yang duduk termenung di pojok-pojok halte depan menara gedung.

Sering saya dapati pandangan mereka seperti kosong, memandangi lalu lalang orang dan termenung melihat ramainya pengunjung Pacific Place mall yang persis berada di depan gedung Indonesia Stock Exchange.

Begitu kontras pemandangan yang terlihat. Sosok-sosok kemiskinan yang teracuhkan di pusat finansial dan kemewahan negeri ini.

Kemarin, miris sekali rasanya ketika melihat sepasang anak miskin duduk termangu di samping pintu bayar parkir motor. Sang kakak perempuan terpaku melihat keluar masuk orang yang mengambil dan membayar karcis, dan begitu pula dengan adik laki-lakinya. Keduanya tak lebih dari lima dan tiga tahun.

Entah apa yang ada dipikiran mereka.

Sebagai seorang ayah, sedih sekali melihat pemandangan itu. Ada memang pikiran yang "menuduh" bahwa anak-anak miskin itu sengaja ditaruh di sana untuk mengais rejeki dari rasa iba. Tapi kalaupun iya, tetap saja tidak bisa memadamkan kepolosan dari wajah-wajah mereka.

Apapun alasan mereka berada di sana, itu bukanlah hal yang penting. Karena kalau dipikirkan lagi, kehadiran mereka memiliki makna yang lebih dari sekedar orang miskin yang meminta-minta.

Mereka hadir seolah sebagai ujian atas kepekaan hati nurani kita. Ketukan untuk menyentuh rasa kemanusiaan di tengah-tengah kesibukkan mencari harta di pusat keuangan negeri ini.

Saya tak tahu lagi apakah hari ini dan hari-hari yang akan datang akan melihat kedua bocah itu lagi. Tiada daya selain memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk menjaga mereka. Melindungi mereka dari kejahatan dan rasa sakit. Memudahkan rejekinya, dan menjadikan mereka manusia-manusia yang tahu bersyukur kepada Tuhannya.

Semoga doa ini didengar dan dikabulkan Allah ya nak?

Semoga deritamu selama ini menjadi pembuka jalan untuk kehidupan yang lebih baik.

Amiiin...

No comments:

Post a Comment