11 July 2012

Rela jadi selingkuhan untuk rebut suami orang

Untitled

Bagi laki-laki, tidak ada godaan yang lebih besar daripada godaan wanita. Dalam status sosial dan ekonomi apapun, kehadiran wanita dalam kehidupan laki-laki akan selalu menarik perhatian.

Bahkan tak jarang kehadiran seorang wanita bisa membuat banyak laki-laki jatuh bangun dibuatnya.

Meskipun demikian, hal tersebut tidak serta merta menjadikan semua wanita sebagai individu-individu penggoda. Mereka tetap mempunyai kontrol terhadap dirinya sendiri agar tetap disegani dan dihormati keberadaannya.

Sayangnya, masih banyak wanita yang acapkali mengabaikan kemuliaan martabat dan pentingnya arti sebuah kehormatan.

Mereka dimanjakan oleh nafsu sehingga rela melakukan berbagai hal yang justru merusak nama baiknya sendiri. Salah satunya adalah wanita yang mau bersusah payah dan berselingkuh untuk bisa merebut suami orang.

Sampai sekarang saya masih suka bingung sendiri, kenapa ada wanita yang ngotot mau mendapatkan suami orang?

Tak hanya itu, wanita perebut suami orang sepertinya juga mudah terbuai dengan bualan lelaki yang mengatakan bahwa kelak ia akan menceraikan isterinya.

Hal apakah yang bisa mendorong seorang wanita bisa berbuat demikian? Apa yang memotivasi dirinya untuk jadi selingkuhan?

Mungkinkah kemilau harta dan kenikmatan hidup telah mendorong wanita-wanita tersebut rela melakukan apa saja demi mendapatkan suami orang? Atau mungkin itu dikarenakan oleh cinta?

Bagi saya tidak masuk akal menggunakan cinta sebagai alasan untuk merebut suami orang.

Alasan tersebut terlalu dibuat-buat sehingga terlihat sebagai pembenaran yang dipaksakan.

Karena kalau dipikirkan kembali, menggunakan cinta sebagai dalih untuk merebut suami orang adalah perbuatan menipu diri sendiri.

Cinta tidaklah buta dan cinta tak mungkin mendorong kita untuk berbuat kerusakan. Apalagi sampai menghancurkan rumah tangga orang lain.

Kalau ada yang bersikukuh cinta itu buta, maka sebenarnya itu adalah cinta yang dibutakan oleh nafsu semata.

Apabila ada wanita yang mengatasnamakan cinta untuk merebut suami orang, maka saya yakin cinta sesungguhnya bukanlah pada sang lelaki. Tapi pada apa-apa yang bisa diberikan sang lelaki untuk memenuhi nafsu dan gengsinya.

Cukup adil kiranya jika saya mengatakan bahwa wanita perebut suami sebenarnya adalah wanita-wanita pemalas.

Malas mensyukuri, malas berusaha, malas mewujudkan harapan dengan cara yang benar.

Rasa malas ini pada akhirnya menjadikan mereka individu-individu yang pesimis dan selalu ingin hidup dengan cara instan. Seolah tidak ada jalan lain selain menggantungkan diri pada suami orang. Tidak perduli akan kerusakan yang ditimbulkan pada keluarga sang suami.

Anehnya lagi, wanita perebut suami suka dengan "polosnya" membuat anak. Seolah-olah anak hasil selingkuhan adalah stempel mujarab untuk membuat sang lelaki tak berdaya dan takluk pada kemauan sang wanita.

Jika dirasa perlu, mereka pun tak sungkan untuk memainkan peran sebagai korban tipu daya laki-laki dan menggunakan anak hasil selingkuhan sebagai alat untuk mendapatkan belas kasihan.

Alangkah menyedihkan jika kita memikirkan kehidupan anak-anak yang dihasilkan dari perselingkuhan.

Kelak mereka akan hidup dalam dunia yang membingungkan, serba salah, dan tentunya memalukan.

Wanita perebut suami, tidakkah mereka berpikir bahwa segala upaya untuk mendapatkan suami yang tergoda hanya akan berujung pada rasa sakit?

Kalaupun seorang wanita berhasil merebut suami orang dan kemudian menikah dengannya, tidakkah dia berpikir bahwa hal yang sama bisa terjadi pada dirinya?

Bukankah seorang suami yang bisa dengan mudah berselingkuh dan meninggalkan isteri pertamanya akan dengan mudahnya melakukan hal yang sama pada wanita-wanita berikutnya?

Bukankah dengan jadi selingkuhan sang wanita sebenarnya menjerumuskan dirinya sendiri untuk dikibuli lagi?

Merebut suami orang bukanlah pilihan cerdas ataupun realistis.

Merebut suami orang adalah bentuk tumpulnya akal karena disilaukan oleh nafsu dan kemilau dunia yang membutakan.

Merebut suami orang tidak mungkin karena cinta. Karena cinta tidaklah buta, dan cinta tidak bisa dijadikan pembenaran bagi seorang wanita untuk menghancurkan rumah tangga orang lain.

Ingat, wanita adalah ciptaan yang mulia dan sebuah anugerah yang dipenuhi dengan segala kehormatan. Maka janganlah seorang wanita rela merendahkan dirinya sendiri dan merebut suami orang dengan menjadi selingkuhan.

Bukankah selalu ada jalan dari setiap kesulitan? Pikirkanlah lagi dan lagi, sebelum semuanya terlambat.

photo credit: Taylor Lauren Scott via photopin cc

 

1 comment:

  1. karena kau tak merasakan apa yg kurasakan, begitu kata teman saya saat membaca blog ini wkwkk

    ReplyDelete