13 February 2013

Pembukuan sederhana usaha kecil dan rumahan

Analyzing Financial Data

Pembukuan sederhana usaha bisa diawali dari pencatatan arus kas. Karena dalam operasinya, keuangan usaha kecil dan rumahan umumnya masih terfokus pada aliran uang tunai.

Namun perlu diingat bahwa pembukuan sederhana ini hanyalah bagian kecil dari praktek akuntansi yang sebenarnya, yaitu pencatatan aliran uang kas.

Tapi karena usaha kecil dan rumahan umumnya masih terfokus pada transaksi tunai (cash/bank transfer), maka pembukuan usaha bisa dimulai dari sini dulu.

Perlengkapan yang dibutuhkan untuk pembukuan sederhana ini adalah kalkulator, buku kas, satu boks amplop, dan tentunya alat tulis untuk mencatat.

Seluruh perelengkapan ini bisa didapatkan di toko ATK terdekat dan sebelum memulai pencatatan, kita perlu membuat pos-pos keuangan.

Pos keuangan pada dasarnya adalah kategori pencatatan di mana setiap kategori akan mendapat buku kas dan amplopnya masing-masing. Untuk memudahkan, saya membagi pos keuangan menjadi tiga bagian.

Anda nanti bisa menyesuaikan nama dan jumlahnya sesuai kebutuhan. Pos-pos keuangan yang saya maksud adalah Kasir, Belanja, dan Penjualan:
  • Pos Kasir adalah pos keuangan utama di mana seluruh uang terpusat. Kalau diibaratkan pangkalan taksi, maka Pos Kasir adalah poolnya.Pos Kasir juga merupakan pos yang mendistribusikan uang ke Pos Belanja.
  • Pos Penjualan adalah pos yang mencatat seluruh penjualan produk yang kita punya. Uang hasil penjualan dikumpulkan dahulu di pos ini sebelum kemudian disetor ke Pos Kasir.
  • Pos Belanja adalah pos yang berhubungan dengan pengeluaran usaha. Baik itu untuk belanja bahan baku, operasional, maupun gaji karyawan.
Awal pencatatan dimulai dari Pos Kasir dan saldo berasal dari modal yang disetor oleh pemilik usaha ataupun yang berasal dari saldo bulan sebelumnya (dicatat sebagai uang masuk).

Berikutnya, Pos Kasir menyerahkan uang ke Pos Belanja untuk belanja dan proses produksi. Oh ya, pada buku kas biasanya terdapat kolom debet dan kredit dan kedua istilah ini masih suka membingungkan.

Tapi ini bukan masalah besar. Kita bisa menggantinya dengan istilah yang lebih mudah dimengerti. Misalnya menjadi "Uang Masuk" dan "Uang Keluar".

Nah, setelah Pos Belanja menerima uang dari Pos Kasir, pemilik usaha kemudian mengolah uang belanja tersebut untuk menghasilan produk untuk dijual. Hasil penjualan produk kemudian dicatat oleh Pos Penjualan dan uangnya disimpan dalam amplop Pos Penjualan.

Pada waktu yang sudah ditentukan (misalnya setiap sore), uang hasil penjualan yang terkumpul di amplop Pos Penjualan kemudian disetorkan seluruhnya ke amplop Pos Kasir.

Nah, di Pos Kasir inilah kita bisa melihat posisi saldo usaha. Yaitu selisih antara uang yang disetor oleh Pos Penjualan dan uang yang dikeluarkan untuk Pos Belanja. Dan di akhir bulan, kita bisa menyimpulkan apakah usaha di bulan ini untung atau merugi. Berikut saya ilustrasikan apa yang saya maksud:

pembukuan-sederhana

Saya menyarankan setiap pos setidaknya memiliki satu buku kas per bulannya. Jadi kita punya satu buku untuk Januari, satu untuk Februari, dan seterusnya.

Pembukuan untuk usaha kecil dan rumahan tidak perlu rumit ataupun mahal. Dengan modal yang relatif murah, pemilk usaha bisa memiliki pembukuan sederhana untuk mencatat transaksi keuangannya.

Karena usaha kecil dan rumahan umumnya masih terfokus pada aliran uang tunai, maka pembukuan sederhana usaha bisa diawali dari pencatatan arus kas.

Ini merupakan sebuah langkah menuju sistem pembukuan yang lebih baik dan kelak dapat memudahkan pemilik usaha dalam menerapkan sistem akuntansi yang lebih lengkap.

Bagaimana dengan usaha Anda? Apakah sudah/akan menerapkan sistem pembukuan?

photo credit: Dave Dugdale via photopin cc

No comments:

Post a Comment