01 November 2014

Nanami dan si beruang

Nanami and her little bear

Awalnya boneka beruang itu dibeli saat kami pergi ke sebuah studio di Bandung untuk foto keluarga sekitar 2 tahun yang lalu. Itu pun dibelikan karena kakek dan neneknya ingin ketiga cucunya terlihat lebih lucu saat pemotretan.

Oleh karenanya, setiap cucu diberikan satu boneka beruang.

Setelah sekian lama diacuhkan, tiba-tiba saja si beruang menjadi boneka kesayangan. Entah apa pemicunya dan saya sendiri tidak tahu kapan dia menjadi seperti itu. Kini boleh dibilang setiap hari si beruang kecil ada dalam dekapannya.

Diajaknya bermain dan ngobrol layaknya sahabat baik. Lucu juga sih melihatnya. Tapi kedekatan Nanami dengan si beruang kecil juga menghadirkan kerjaan baru bagi orang di rumah. Setiap ada kesempatan, Nanami minta agar si beruang kecil bicara.

Walhasil, saya sering kebagian jadi beruang kecil. Ngobrol dengan Nanami pakai suara beruang-beruangan.

Nanami and her little bear 

Nanami and her little bear

Kalau lagi jadi beruang kecil, saya ibaratnya sudah seperti dalang. Membuat seolah si beruang sedang berinteraksi dengan Nanami. Ngobrol ke sana-kemari, tanya jawab, dan menjelaskan hal-hal yang tidak dimengertinya.

Cukup menyenangkan, tapi harus menahan sabar juga. Apalagi sekarang Nanami lebih suka mendikte. Misalnya saja bilang "Ayah, beruangnya bilang 'teteh, udah makan belum?' gitu dong", atau "Ayah, nanti Nanami tanya ke si beruang, trus dia jawabnya 'belum, aku boleh ngga ikutan main sama teteh?' Gitu ya?" Saya pun akhirnya harus mengikuti arahan dia.

Ada kalanya saya merasa bosan dan jengkel. Apalagi main dengan beruang hampir tidak ada hentinya. Mulai dari bangun tidur sampai kembali lagi ke kasur di malam hari. Beruang kecil terus menghampiri. Tapi di saat hening seperti sekarang, saat Nanami sudah terlelap di samping si beruang, saya suka dihampiri rasa bersalah.

Merasa bersalah telah meninggalkan dia main sendirian dengan si beruang. Apalagi kalau saya ingat betapa dia menyayangi boneka itu.

Nanami sekarang berusia kurang lebih empat setengah tahun, dan dari apa yang saya perhatikan, imajinasinya dalam bermain semakin nampak. Saya percaya bahwa si beruang adalah salah satu channel dalam menyalurkan imajinasinya.

Meski harus dengan kesabaran ekstra, saya tetap bahagia dan mensyukuri apa yang telah Allah (SWT) beri, dan jujur saja bermain dengan beruang sebenarnya cukup menghibur.

Nanami and her little bear

Memang benar apa yang dibilang orang tua, bahwa anak-anak cepat sekali besarnya. Tidak terasa waktu berlalu dan tiba-tiba saja anak sudah memasuki umur sekian dan sekian.

Kalau saya renungkan kembali ke situ, rasanya tidak sepadan apabila saya harus kehilangan momen-momen bersama Nanami hanya lantaran saya bosan dengan si beruang.

Bukankah masa-masa seperti ini jika sudah berlalu tidak akan pernah kembali lagi? Bukankah dengan tumbuh kembangnya Nanami, si beruang pada saatnya nanti hanyalah tinggal kenangan?

Pada akhirnya saya harus mengakui bahwa sebesar apapun rasa bosan, kesal, dan lelahnya main dengan si beruang, itu semua adalah bagian dari perjalanan saya sebagai seorang ayah. Seorang ayah yang ingin menjadi bagian tumbuh kembang gadis kesayangannya.

Seorang ayah yang ingin mengukir cerita bersama buah hatinya agar kelak bisa merasakan indahnya bernostalgia di saat dia besar nanti.

Nanami and her little bear

Nanami and her little bear

No comments:

Post a Comment