13 December 2014

Memotret lansia dan renungan tentang hidup

He seems tired, but he has a beautiful smile

Saat saya berjalan kaki sambil membawa kamera, saya suka menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dan ngobrol dengan orang tua yang saya temui di jalan.

Ada semacam rasa ingin tahu dalam diri saya untuk mengetahui tentang kehidupan mereka dan bagaimana cara mereka menghadapi berbagai cobaan hidup.

Ketertarikan saya untuk melakukan itu mungkin didasari oleh pencarian dalam diri saya sendiri. Pencarian untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup yang saya jalani serta sebagai bahan renungan tentang kekuasaan Allah.

Ketika saya melihat sesosok lansia di jalan, saya acapkali tidak kuasa untuk berpikir tentang hidup saya sendiri. Kelak, bila diberi kesempatan, saya pun akan menjadi tua, keriput, dan renta seperti mereka.

Akankah saya bisa lebih bijaksana ketika berada di posisi itu? Ataukah saya masih seperti sekarang, yang kerap bersikap emosional dan bertindak bodoh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akhirnya mendorong saya untuk menyapa, mengajak bicara, dan memotretnya.

No pressure

Portrait of a stranger

Dari obrolan-obrolan dengan mereka, seringkali saya temukan kekaguman atas kegigihan mereka dalam menjalani hidup. Jawaban-jawaban mereka pun membuat saya terdiam dan kerap menohok keangkuhan diri sendiri.

Apalagi ketika tahu bahwa kondisi saya masih lebih baik dari mereka. Alangkah malunya saya atas keluh kesah diri sendiri dan prasangka saya terhadap Sang Ilahi.

Senior citizen

Pertemuan-pertemuan saya dengan sejumlah lansia juga mengingatkan saya akan Ayah. Sosok yang dulu kuat kesana kemari, kini makin berkeriput, melambat, dan melemah. Meski semangat dan ketegarannya masih terpancar, tapi tak terpungkiri bahwa dia sudah tak seperti yang dulu lagi.

Saya teringat ketika menemaninya potong rambut. Saya duduk di belakang dan mengamatinya diam-diam. Ada rasa sesal, iba, dan sayang yang saya rasakan saat itu.

Sesal tidak bisa tinggal dekat darinya, iba melihat tubuhnya yang makin tua dan rambutnya yakin tak lagi hitam, dan rasa sayang ingin menjaga dan membahagiakannya.

Memotret lansia banyak membuat saya berpikir sekaligus menjawab banyak pertanyaan tentang hidup yang tengah saya jalani. Adalah pelajaran hidup yang berharga ketika kita berhenti sejenak dan menyempatkan diri untuk bercengkrama.

Bertanya tentang kehidupan mereka dan mencari tahu bagaimana mereka menghadapi berbagai kesulitan hidup selama ini.

Jika diberi usia yang lebih panjang, maka menjadi tua adalah sebuah kepastian. Dan bisa mendapatkan pengalaman hidup dari mereka yang sudah menjalaninya, adalah sebuah anugerah. Anugerah yang memberikan semangat baru untuk lebih mensyukuri pemberian Ilahi.

Saya tidak tahu apakah dengan melakukan semua ini saya bisa jadi lebih bijaksana di hari tua nanti. Tapi yang jelas, memotret lansia membantu saya untuk lebih berhati-hati dan berpikir lebih dalam tentang hidup yang saya jalani.

Dad, having a haircut

Dad, in midday prayer

No comments:

Post a Comment