25 October 2015

Membawa desa ke tengah kota



Untuk mengisi hari Minggu, saya sebenarnya punya rencana untuk datang ke Jakarta Marathon untuk foto-foto. Tapi sehari sebelum itu (Sabtu), saya melihat keramaian yang tidak biasa di Taman Honda, Tebet dan selidik punya selidik, ternyata di situ sedang diadakan Festival Desa 2015.

Tapi karena saya datangnya sudah terlalu sore, saya cuma bisa sebentar di sana. Buat saya acara ini menarik dan mengguggah rasa ingin tahu. Makanya saya memutuskan membatalkan rencana hari Minggu saya untuk pergi ke Jakarta Marathon dan pergi ke Festival Desa saja.

Dari informasi yang saya dapat di Facebook page Festival Desa, kegiatan ini sepertinya sudah diadakan beberapa kali sebelumnya, dan alasan mengapa diadakan ini adalah (saya ambil dari Facebook page Festival Desa):
Aliansi untuk Desa Sejahtera percaya bahwa saling jaga dan dukung antara para produsen di pedesaan dengan konsumen diperkotaan dapat menjadi salah satu jalan untuk mencapai kesejahteraan. Untuk itulah kami menggagas Festival Desa, sebagai tempat untuk mempertemukan produsen di pedesaan dengan konsumen kota. Dari pertemuan ini diharapkan dapat memantik berbagai ide dan kerjasama untuk saling mendukung.
Terus terang menurut saya ini kegiatan yang bagus sekali. Selain menghibur, acara ini juga memberikan banyak informasi tentang kondisi pertanian di tanah air.



Namun ada satu informasi yang membuat saya kaget dan terenyuh, yaitu ketika mendengarkan acara bincang-bincang soal pangan yang menjelaskan bahwa Indonesia sekarang ini sedang kehilangan petani. 

Kehilangan ini pun sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Penyebabnya? Makin banyak petani yang beralih profesi dan ditambah dengan makin meluasnya lahan pertanian yang berubah fungsi.

Kalau saya tidak salah dengar, sejak 2003 Indonesia sudah kehilangan sekitar lima juta petani dan menyisakan sekitar 26 jutaan petani saja. Bayangkan, 200 jutaan rakyat Indonesia “disuapi” oleh hanya 26 juta orang dan jumlahnya pun terus menurun!

Setelah mendengar penjelasan ini, saya jadi lebih mengerti kenapa kemandirian pangan di Indonesia sepertinya susah sekali.

Alih-alih mau swasembada pangan, yang ada kita justru menuju bencana pangan dan makin bergantung kepada impor. Miris juga rasanya mendengar sindiran bapak pembicara yang mengatakan bahwa orang kota lama-lama harus belajar makan uang karena sudah tidak ada petani lagi yang bisa memproduksi makanan.



 



Meskipun kondisinya menurut saya sudah mengkhawatirkan. Tapi kita masih bisa merubah keadaan. Setidaknya memperlambat laju perpindahan profesi para petani.

Caranya? Dengan mengkonsumsi produk pangan lokal, dan inilah tema yang diusung Festival Desa kali ini.

Dengan makin banyaknya orang yang mengkonsumsi produk pertanian lokal, maka makin banyak pula petani (dan nelayan) yang dipekerjakan. Sehingga mereka bisa tetap hidup layak dan ketahahan pangan kita juga menjadi lebih baik.

Terlepas dari kekhawatiran-kekhawatiran tersebut di atas, saya sangat mengapresiasi diadakannya Festival Desa. Dengan membawa desa ke tengah kota,  Festival Desa bisa menjembatani information gap antara perkotaan dan pedesaan.

Contoh kecilnya saja di diri saya sendiri. Kalau acara ini tidak ada, maka saya tidak akan tahu dan saya tidak akan tergerak untuk ngeblog soal ini.



Festival Desa kali ini juga diisi oleh berbagai kegiatan seperti lomba menggambar anak, workshop untuk para ibu, kuliah umum, dan acara-acara lainnya. Saya sendiri tertarik dengan sejumlah benda-benda seni yang diolah dari berbagai bahan yang ada di pedesaan serta item-item pertanian lainnya.

Berikut adalah foto-foto lainnya yang saya ambil di kegiatan Festival Desa 2015 kemarin:















No comments:

Post a Comment