05 November 2015

Mengenang kembali ambruknya atap SDN Tebet Timur 11 Pagi



Lebih dari setahun yang lalu (27 Sept 2014), atap sekolah mungil itu ambruk karena tak mampu menahan beban. Bersamaan dengan runtuhnya atap, korsleting listrikpun terjadi yang kemudian membakar bagian atap yang tersisa.

Sebagai alumni dari SDN Tebet Timur 11 pagi, kisah ambruknya atap sekolah menorehkan kesan mendalam bagi saya. Kejadian yang membuat kaget semua orang ini seolah mengulang kembali kejadian yang sama di tahun 90-an. Untung dari dua kejadian tersebut tidak ada satu pun yang memakan korban.

Kalau di tahun 90-an atap yang runtuh dikarenakan rangka yang sudah lapuk, runtuhnya atap di tahun lalu lebih karena konstruksi atap yang tidak memadai. Kondisi ini akhirnya berujung pada tidak mampunya rangka atap menahan beban genting yang berat.

Saat ambruk, saya sedang berada di Mangga Dua dan baru mengetahui kejadian ini sekembalinya dari sana. Cukup kaget saya mendengar berita tentang kejadian ini apalagi setelah melihat langsung atap sekolah yang hilang.

Saya memutuskan untuk melihat lebih jauh keesokan harinya dengan pertimbangan hari sudah sore dan faktor keamanan.

Kerusakan yang ada ternyata cukup signifikan. Setidaknya ada lima kelas yang tidak bisa digunakan dan seluruhnya terlihat porak poranda.




Peristiwa ini ternyata cukup mendapat perhatian dari media. Karena saat tiba di lokasi, saya mendapati sang Kepala Sekolah sedang di wawancara oleh sejumlah media elektronik.

Dari informasi yang saya peroleh, SDN Tebet Timur 11 Pagi baru saja direnovasi sekitar dua tahun sebelumnya. Jadi sangat mengherankan jika sudah runtuh begitu cepat.

Sampai saat ini saya tidak tahu penyebab pasti runtuhnya atap. Curangnya kontraktor dan kolusi pejabat terkait merupakan dua hal yang mungkin terpikirkan di kepala banyak orang. Mengurangi komposisi material sehingga melemahkan kekuatan atap secara keseluruhan.

Meskipun sekarang atap sekolah sudah dibangun kembali (dengan harapan lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya), peristiwa ini akan selau menjadi bagian dari sejarah SDN Tebet Timur 11 pagi.

Sebagai salah satu alumni, saya cuma bisa berharap sekolah bisa terus berdiri tanpa harus melewati kejadian semacam ini lagi. Cukuplah ambruknya atap kali ini menjadi pelajaran berharga bagi pihak-pihak yang terkait untuk lebih serius dalam memelihara bangunan sekolah.

Pada akhirnya, saya hanya bisa mengucapkan syukur kepada Allah yang telah melindungi semuanya sehingga tidak seorang pun yang menjadi korban dalam peristiwa ini.





No comments:

Post a Comment