06 November 2015

Kata siapa cowok gendut tidak bisa bahagia?


Selain masalah baju, laki-laki gendut juga suka dijadikan target diolok-olok. Dianggap lambat, doyan makan, dan tidak menarik. Akibatnya, para lelaki beranggapan bahwa ekstra kilogram yang melekat di tubuhnya menjadi sebab ia tidak bahagia.

Tidak sedikit memang para lelaki gendut yang merasa dirinya tidak menarik dan memandang berat badan sebagai sumber kegagalan untuk mendapatkan pasangan. Seolah-olah kegendutan menjadi peredup daya tarik sebagai seorang individu.

Terus terang saya pernah mengalami hal yang seperti itu.

Ketika itu saya merasa terbebani dan merasa malu dengan berat dan bentuk badan. Terlebih lagi ketika saya melihat para wanita yang sepertinya bahagia sekali berjalan mesra dengan pasangannya yang tidak gendut.

Sepertinya makin pudar saja harapan saya untuk bisa mendapatkan seorang tautan hati.

Ternyata apa yang saya alami juga dirasakan oleh para laki-laki gendut lainnya.  Mereka tidak percaya diri dan cenderung menepis peluang untuk bisa dekat dengan seorang wanita. Bukan karena tidak tertarik, tapi karena tidak yakin ada wanita yang mau dengan mereka.

Karena pemikiran yang seperti ini terus dipelihara, akhirnya muncul persepsi dalam diri saya bahwa saya memang tidak menarik. Ujung-ujungnya para wanita pun melihat saya sebagai orang yang pesimis, tidak pede, dan lebih senang hidup menyendiri.

Bete? Tentu saya bete dan selalu bertanya kenapa saya sebegitu gendutnya.

Tapi saya keliru, dan saya salah langkah dengan punya pikiran seperti itu. Saya pun tersadar dan memaksa diri untuk merubah pola pikir. Yaitu dengan merubah persepsi terhadap kegendutan itu sendiri.

Jika dulu gendut badan saya lihat sebagai sebuah penghalang untuk jadi orang yang menarik, sekarang saya rubah menjadi sebuah potensi yang bisa membuat orang tertarik.

Saya jadi punya semangat dan harapan baru. Sikap saya dalam bergaulpun akhirnya berubah ke arah yang lebih positif. Yang tadinya menghindar, sekarang lebih aktif dan partisipatif.

Perlahan namun pasti, percaya diri saya pun tumbuh kembali.

Contoh kecilnya saja ketika saya diledek karena saya gendut.

Dulu saya cenderung mengacuhkan orang yang meledek, tapi sekarang? Saya malah bisa ngeles dan membalas, "Eit jangan sirik, gendutnya gue ini kayak sofa Itali. Enak untuk dipeluk dan dipegang. Kalau cowok tegap mah keras, kayak papan untuk cuci pakean. Pilih mana? Sofa atau papan?"

Mungkin contoh tadi terdengar asal jawab, tapi saya yakin hal yang demikian membantu kita untuk membentuk persepsi bahwa kita nyaman dengan keadaan diri kita sendiri.

Ketika seorang laki-laki merasa nyaman dengan dirinya sendiri, maka ia akan memancarkan rasa kepercayaan diri yang lebih baik. Akan bersikap terbuka, lebih bisa tersenyum, dan tentunya lebih menyenangkan.

Oleh karenanya, langkah awal yang bisa kita ambil adalah dengan merubah pola pikir ke arah yang lebih positif. Butuh waktu memang, tapi cobalah sedikit demi sedikit.

Kegendutan bukanlah penghalang bagi seorang lelaki untuk bisa bahagia. Bukan menjadi penghambat untuk bisa mendapatkan pasangan, dan bukan pula jadi rintangan untuk bisa merasakan indahnya jatuh cinta.

Nah, kalau dipikir-pikir lagi, wanita mana yang tidak suka dengan laki-laki yang percaya diri, menyenangkan, dan enak untuk dipeluk layaknya sofa Itali? :)

Semangat!

ad photo credit: Rolling Thunder via photopin (license)

No comments:

Post a Comment