04 November 2015

Pedagang kaki lima, mereka yang dicari dan dinanti


Terlepas dari alasan, latar belakang, dan apa yang mereka jual, saya selalu mengagumi semangat usaha para pedagang kaki lima (PKL). Keberadaan mereka tetap dicari banyak orang meski sering mendapat tantangan atas kesemerawutan yang mereka timbulkan.

Pedagang kaki lima menurut saya adalah orang-orang yang gigih dan tak kenal lelah. Mereka bisa muncul di berbagai tempat dan pandai membaca situasi untuk bisa menjajakan dagangannya.

Contoh paling menarik menurut saya adalah saat ada demonstrasi. Baik itu mahasiwa, buruh, atau demonstrasi lainnya.

Demonstrasi boleh ramai, ricuh, atau bahkan tegang. Tapi tetap saja para demonstran dan pihak keamanan butuh minum dan makan. Nah, di sinilah para pedagang kaki lima memainkan peranannya sebagai penyedia logistik untuk menyegarkan badan. Mereka biasanya mengambil posisi netral dan bertindak sebagai penonton saja. Dengan begitu, mereka menjadi fleksibel untuk berpindah-pindah tempat sesuai kebutuhan.



Meskipun kehadiran mereka dibutuhkan, tapi bukan berarti keberadaan mereka tanpa masalah. Dari pengamatan saya selama ini, dua hal yang paling "menganggu" dari kehadiran mereka adalah kesemerawutan dan sampah.

Kesemerawutan biasanya timbul ketika kontrol lingkungan tidak dijalankan dengan baik. Tanpa pengaturan dan pengawasan yang semestinya, jumlah pedagang kaki lima dapat bertambah dengan cepat dan merubah pemandangan yang sebelumnya rapih menjadi semerawut.

Kasus-kasus penertiban yang selama ini diberitakan merupakan contoh pembiaran yang terlalu lama sehingga  menghasilkan kesemerawutan lingkungan. Kondisi inipun akhirnya membuat suasana menjadi rawan konflik antara pedagang dan dinas tata-kota.

Sedangkan untuk masalah sampah, saya pikir ini sangat dipengaruhi oleh faktor kebiasaan buang sampah sembarangan. Baik itu yang dilakukan oleh para pedagang ataupun pembeli itu sendiri.



Oleh karenanya, saya pribadi mengapresiasi pedagang kaki lima yang tetap menjaga kebersihan tempat ia berdagang. Pedagang yang seperti ini, menurut saya, adalah pedagang yang bertanggung jawab sehingga pembeli pun bisa mengikuti untuk membuang sampah di tempat yang sudah disediakan.

Kalau bicara pedagang kaki lima sebenarnya kita bicara tidak jauh-jauh dari urusan makanan. Nah, saya sendiri cenderung untuk membeli makan yang mudah dikonsumsi. Favorit saya selama ini adalah kue cubit. Tapi kalau sedang lapar-laparnya bisa juga beli bubur, soto mie, ketupat sayur, atau mie ayam.

Makanan yang saya hindari adalah yang warna-warni, karena saya tidak yakin dengan bahan yang digunakan. Apalagi kalau warna-warnanya "ngejreng". Bukan saya menuduh mereka curang, tapi saya lebih baik mengambil amannya saja. Saya juga biasanya melewatkan sosis dan gorengan pada umumnya.



Meskipun kehadiran mereka sering menyebabkan kesemerawutan dan kotornya lingkungkan, tapi pedagang kaki lima tetap dicari banyak orang. Terlepas dari alasan, latar belakang, dan apa yang mereka jual, saya berpendapat bahwa pedagang kaki lima merupakan orang-orang gigih yang pandai membaca situasi untuk bisa menjual dagangannya.

Saya mendukung penataan pedagang kaki lima agar lebih teratur dan ramah lingkungan. Karena toh hadirnya mereka banyak memberi manfaat baik dari sisi pembeli maupun dari sisi lapangan pekerjaan. Saya yakin bahwa para pedagang kaki lima punya potensi untuk jadi pengusaha hebat dan mampu menggerakan perekonomian yang merakyat.

Memang bukan pekerjaan mudah, dan saya berharap ini bisa berjalan dengan tertib dan damai. Butuh waktu, konsistensi, dan komitmen dari para pihak terkait. Karena dari apa yang saya lihat selama ini, penertiban kaki lima masih saja menyisakan banyak tangis dan kisah sedih dalam pelaksanannya.






No comments:

Post a Comment