11 November 2015

Poligami Didukung atau Dimusuhi?



Poligami acapkali menjadi topik yang sengit diperdebatkan. Banyak yang menentang, tapi tidak sedikit pula mereka yang mendukungnya. Lalu bagaimana? Apakah poligami perlu didukung?

Berdasarkan pengalaman saya berbincang-bincang soal poligami, saya biasanya mendapati pertentangan yang keras dari para wanita. Sedangkan para lelaki lebih banyak diam atau hanya senyum-senyum saja.

Penolakan wanita terhadap poligami menurut pendapat saya sedikit banyak dipengaruhi oleh fitrah wanita itu sendiri, di mana mereka sangat sulit untuk bisa berbagi hati. Selain itu, para wanita juga sering melihat poligami sebagai alat sah bagi laki-laki untuk mencari kenikmatan baru yang diperbolehkan oleh agama.

Dari situ kemudian terbentuk persepsi bahwa poligami hanya akan membuat para wanita menjadi "korban" nafsu dan keserakahan laki-laki.

Saya pribadi melihat penolakan terhadap poligami lebih disebabkan oleh ketidakrelaan para wanita untuk  berbagi hati. Bagi mereka hati suami haruslah sepenuhnya untuk istri dan tidak boleh dibagi untuk wanita lain. Meskipun itu dilakukan melalui cara yang diperbolehkan oleh agama.

Salahkah yang demikian? Saya pikir tidak sepenuhnya salah. Namun saya tidak pula membenarkan ketidaksukaan untuk berbagi hati menjadi dasar untuk menentang poligami atau bahkan jadi memusuhinya.

Saya berpendapat bahwa sebelum mengambil sikap terhadap poligami, kita terlebih dahulu harus setuju bahwa kepatuhan terhadap Allah (swt) harus berada di atas segalanya. Termasuk di atas ego kita. Jika tidak, maka perdebatan terhadap poligami akan terus terjadi.

Di dorong oleh kepatuhan kita tersebut, maka sudah selayaknya kita menerima poligami karena memang Allah sendiri yang memperbolehkannya (QS. An-Nisa’: 3). Meskipun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang disukai.

Tapi ingat, poligami adalah sebuah pilihan, bukan keharusan. Kita bisa memilih untuk menjalani atau tidak menjalani. Namun bukan menentang apalagi sampai memusuhi. Karena bersikap demikian sama saja halnya dengan menentang apa yang sudah Allah tetapkan.

Bukan pilihan menarik


Diperbolehkannya poligami tidak serta merta menjadikan poligami sebagai pilihan yang menarik, dan saya percaya hal ini juga dirasakan oleh sebagian besar laki-laki.

Saya pribadi tidak mau berpoligami karena saya tidak mau berbagi hati dengan yang lain. Cukup dengan istri saya dan hanya dia.

Selain itu, dari kacamata seorang laki-laki, saya juga melihat poligami sebagai sesuatu yang mahal, merepotkan, dan berat tanggung jawabnya. Terutama untuk urusan di akherat. Jadi, untuk apa saya mengambil beban dan tanggung jawab baru, sedangkan apa yang sedang saya pikul sekarang adalah sebuah amanah yang sangat besar?

Monogami tetap lebih disukai


Saya tidak tahu pasti apakah ada data yang merekam berapa banyak jumlah pernikahan monogami vs poligami. Tapi untuk mudahnya, lihatlah sekeliling keluarga, saudara, ataupun lingkungan kita. Saya yakin jumlah pernikahan monogami tetap jauh lebih banyak dari pernikahan poligami.

Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa sebagian besar laki-laki tetap memilih untuk menikah dengan satu orang wanita saja. Dengan begitu, tidak perlulah kita menaruh curiga apalagi sampai memusuhi poligami. Karena toh pada kenyataannya poligami bukan sebuah pilihan menarik bagi kebanyakan laki-laki.

Dalam pandangan saya, ketakutan pada poligami selama ini lebih disebabkan oleh penolakan emosional yang tidak lagi mempertimbangkan kepatuhan kita terhadap apa yang sudah Allah (swt) perbolehkan. Sehingga pada ujungnya, kita sendiri yang bersikap tidak adil.

Ranah Pribadi


Saya meyakini bahwa Allah memperbolehkan poligami untuk kebaikan hamba-hambanya. Tapi Allah juga tahu bahwa poligami bukanlah perkara mudah, terutama untuk kaum wanita. Oleh karenanya poligami dibuat sebagai sebuah pilihan, bukan keharusan.

Sebagai seorang hamba yang harus tunduk dan patuh terhadap apa yang diperbolehkan Allah (swt), maka sudah sepatutnyalah kita menerima poligami di mana kita bisa memilih untuk menjalankan atau tidak menjalankan.

Saya sendiri tidak akan menentang mereka yang ingin berpoligami selama syarat-syaratnya terpenuhi dan jika kedua belah pihak sudah saling menyetujui. Tapi saya juga tidak akan mendorong seseorang untuk berpoligami karena itu adalah ranah pribadi.

- - -

Poligami acapkali menjadi topik yang sengit diperdebatkan dan penolakan wanita terhadap poligami  sedikit banyak dipengaruhi oleh fitrah wanita itu sendiri di mana mereka sangat sulit untuk bisa berbagi hati.

Namun sebelum mengambil sikap terhadap poligami, kita terlebih dahulu harus setuju bahwa kepatuhan terhadap Allah (swt) harus berada di atas segalanya.

Di dorong oleh kepatuhan kita tersebut, maka sudah selayaknya kita menerima poligami karena memang Allah sendiri yang memperbolehkannya. Meskipun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang disukai.

Sebagai seorang hamba yang harus tunduk dan patuh terhadap apa yang diperbolehkan Allah (swt), maka sudah sepatutnyalah kita menerima poligami di mana kita bisa memilih untuk menjalankan atau tidak menjalankan.

Namun bukan untuk ditentang apalagi sampai dimusuhi.

No comments:

Post a Comment