10 February 2016

Petak Sembilan di Hari Imlek



Hari itu merupakan pengalaman pertama saya mengunjungi Petak Sembilan. Meskipun cukup sering  mendengar nama lokasi ini, tapi bisa berkunjung dan mengalaminya sendiri merupakan sebuah pengalaman yang mengesankan. Apalagi kunjungan saya kali ini bertepatan dengan hari raya Imlek.


Sesampainya di lokasi, saya tidak melihat terlalu banyak aktivitas warga di sana. Malah cenderung sepi karena banyaknya toko yang tutup. Namun setelah menelusuri lebih dalam, keramaian mulai nampak terutama di lokasi pintu vihara.


Dari luar, penampakan vihara terlihat sederhana dan cenderung padat. Tapi di sinilah daya tariknya. Sesuatu yang terlihat biasa-biasanya saja, ternyata menawarkan jamuan visual yang begitu menarik ketika kita berhasil masuk ke dalamnya.

Merah.

Adalah kesan pertama yang saya dapatkan ketika masuk ke dalam vihara. Dominasi warna yang begitu kental disertai dengan asap hio memberikan tayangan menarik bagi saya untuk segera mengangkat kamera dan membidiknya.


Satu hal yang menarik bagi saya adalah tingginya toleransi yang diberikan oleh pengelola dan para pelaku ibadah terhadap pengunjung. Baik yang ingin melihat-lihat ataupun ingin memotret.

Mereka yang beribadah bisa terus fokus pada aktivitasnya meskipun pengunjung seperti saya terlihat sibuk lalu-lalang dan jepret sana jepret sini.

Begitu pula dengan pengurus vihara. Mereka nampak sibuk dengan tugasnya dan seperti tidak terganggu dengan kehadiran para pengunjung. Selain itu mereka juga ramah dan tidak segan untuk menjelaskan ketika kita tanya tentang budaya Cina.

Biarpun diberikan kebebasan seperti itu, tapi saya berusaha untuk tetap menjaga jarak agar tidak menganggu lebih jauh dan menjaga kesopanan sebagai tamu. Menahan diri untuk tidak memaksakan meskipun momen-momen bagus harus terlewatkan.



 




Selain jamuan visual, mengunjungi vihara di petak sembilan juga menghadirkan tantangan asap. Bagi orang yang tidak biasa seperti saya, mungkin ada baiknya untuk membawa masker.

Karena setelah sekian lama terpapar asap hio, dada bisa terasa sesak dan mata perih. Jangan lupa pula untuk membawa air minum karena temperatur udara bisa membuat kita kegerahan.

Sedangkan bagi pemilik kamera, perhatikan pula lokasi mengambil foto dan menghindari tempat-tempat yang asapnya begitu pekat untuk menghindari macet lensa karena terpapar debu hio ataupun asap lilin yang terlalu banyak.




Dari sejumlah vihara yang ada di Petak Sembilan, saya hanya mengunjungi tiga. Dua diantaranya penuh dikunjungi dan hanya satu yang terlihat sepi. Menurut penjelasan teman saya, ini karena vihara terakhir merupakan vihara milik keluarga sehingga tidak sepopuler dua vihara lainnya.

Saya sendiri kurang jelas lokasi tepatnya, tapi vihara ini terletak di pinggiran kali yang berhadapan dengan petak sepuluh.


Meskipun sepi, tapi vihara kecil ini cukup menarik. Saya justru lebih menikmati kunjungan ke sana karena tidak berdesakan sehingga bisa mengeksplorasi lebih banyak detail. Ukurannya yang relatif lebih kecil juga memberikan kesan lebih nyaman dan lebih akrab. Bahkan kalau kita lihat ke dalam, suasananya seperti di film-film kung-fu.

Berdasarkan penuturan salah seorang pengelola, vihara ini usianya sudah lebih dari 250 tahun. Dan mendengar ini saya hanya bisa merenung memikirkan bagaimana vihara ini telah menjadi saksi bisu perkembangan dan perubahan masyarakat Tionghoa di kawasan Petak Sembilan.






Kunjungan ke Petak Sembilan saat hari raya Imlek merupakan jamuan visual dan kesempatan belajar bagi saya dengan menyaksikan langsung bagaimana budaya Cina dilestarian dan bagaimana warga keturunan Tionhoa beradaptasi dengan masyarakat sekitar.

Kehadiran vihara-vihara berusia ratusan tahun seolah mengajak saya untuk mengeksplorasi sejarah masa lalu dan mempelajari bagaimana interaksi budaya yang berbeda bisa saling mempengaruhi, membaur, dan bahkan melahirkan kekhasan tersendiri tanpa harus kehilangan jati diri budaya aslinya.

Semua ini merupakan sebuah pengalaman menarik dan membuat saya ingin mengeksplorasi situs-situs bersejarah lainnya di Jakarta.

Ada ide kemana?

No comments:

Post a Comment