29 December 2016

Escaping Jakarta

Pemandangan pagi itu dari jembatan layang Pasupati

Terus terang beberapa waktu belakangan ini saya merasa suntuk dengan Jakarta. Penat rasanya, dan ini membuat saya jadi hilang semangat. Meski saya sudah berusaha meyakinkan diri bahwa ini hanya sementara saja, tapi hal tersebut ternyata tidak bisa merubah keadaan hati.

Saya tetap saja jenuh.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti kata hati saja dan pergi sejenak meninggalkan Jakarta. Sekedar untuk mendapatkan suasana baru. Merubah pemandangan, dari macet dan hutan beton, ke sesuatu yang lebih alami.

Beruntung pada long weekend kali ini ada kesempatan untuk pergi. Kebetulan ada saudara sepupu yang menikah, jadinya saya menyempatkan diri untuk datang sekaligus menemani Ayah yang memang sudah bilang dari jauh hari ingin menghadiri acara ini. Tidak terlalu jauh memang, sekitar 80 km dari Bandung, tepatnya di desa Kasokandel, dekat Majalengka.

Pada hari itu hanya kami bertiga yang pergi ke sana: saya, Ayah, dan sopir. Kami berangkat sekitar jam lima pagi karena ingin menghindari macet di daerah Tanjung Sari.

Bagi mereka yang sering melewati jalur selatan, Tanjung Sari acapkali menjadi sumber macet karena di sana ada pasar tradisional yang berhadapan langsung dengan jalan utama. Sehingga tidak aneh kalau macet di Tanjung Sari efeknya sudah bisa dirasakan sejak Jatinangor.

Karena kami berangkat lebih pagi, jalanan pun terlihat lebih lengang. Baik jalan dalam kota Bandung maupun di jalan tol Pasteur.

Setelah mengambil tiket di pintu tol Pasteur, kami langsung menuju ke tol Cileunyi yang kondisinya juga tidak jauh berbeda. Jalan terlihat lengang dari kedua arah karena masih sedikit kendaraan di sana. Kami pun bisa memacu kendaraan lebih cepat dan tiba di gerbang tol Cileunyi sekitar jam enam pagi.

Memasuki tol Pasteur


Dari tol Pasteur langsung melaju menuju tol Cileunyi

Suasana tol Cileunyi yang lengang

Kami tiba di gerbang tol Cileunyi relatif cepat


Sebenarnya saya sudah lumayan sering melalui jalur selatan, tapi sayangnya selalu jadi sopir. Walhasil tidak bisa berleha-leha di mobil dan mengambil gambar. Nah, berhubung kali ini saya jadi penumpang, saya gunakan kesempatan ini untuk memotret.

Memotret dalam mobil yang bergerak agak susah juga. Selain goyang-goyang, kecepatan Auto Focus (AF) kamera X100T juga kurang memadai. Jadinya suka ada saja gambar yang buram atau tidak terfoto sama sekali. Meskipun begitu, saya berusaha untuk bisa mendapatkan gambar yang lebih baik dengan memotret lebih banyak.

Selama perjalanan menuju desa Kasokandel, ternyata lalu lintasnya lancar-lancar saja. Macet yang kami khawatirkan ada di Tanjung Sari tidak terjadi. Kepadatan seingat saya hanya ada ketika memasuki kota Sumedang. Itu pun tidak terlalu lama karena kami masih bisa melewati jalur utama. Bukan jalur alternatif yang jauh memutar.

Karena kondisi jalan yang lancar, jalan naik turun dan berliku khas jalur selatan bisa kami lalui lebih cepat. Perjalanan yang biasanya menempuh waktu 4-5 jam, bisa kami tempuh di kisaran 3 jam-an dan itu pun sudah sampai di desa Kasokandel.

Para ibu sedang mempersiapkan ubi Cileumbu. Produk pertanian khas seputar Sumedang.


Memasuki Cadas Pangeran

Memasuki kota Sumedang

Tiba di desa Kasokandel
Karena kami tiba lebih awal, kami memutuskan untuk sarapan dulu. Beruntung di depan kantor camat Kasokandel ada warung nasi Ibu Imik, Lumayan enak. Sarapan untuk tiga orang tidak lebih dari 50 ribu rupiah.

Setelah makan kami pun mencari lokasi akad nikah, tapi sayangnya tidak langsung ketemu. Janur kuning yang kami harapkan ada tidak terlihat. Kami terus mencari sampai akhirnya berhenti di alun-alun desa.

Masjid Jami Anwarul Huda desa Kasokendal

Anak-anak bermain di pohon beringin yang berada persis di depan masjid

Bapak delman. Menurut beliau hari itu terasa sepi karena hari libur.


Kami pun bertanya pada warga yang ada di alun-alun apakah mereka tahu tentang acara apernikahan yang kami akan kunjungi. Ternyata mereka tahu dan untungnya tidak terlalu jauh dari alun-alun. Setelah mengucapkan salam, kami langsung menuju ke lokasi acara.

Kami menunggu sekitar 15 menit lagi karena yang punya acara belum tiba di lokasi. Suhu udara saat itu lumayan membuat gerah tapi untungnya mobil bisa parkir di tempat yang teduh.

Setibanya rombongan mempelai, saya segera turun dari mobil untuk menyambut saudara-saudara dalam rombongan tersebut. Acara pernikahan kali ini menurut saya adalah acara khas pernikahan di daerah. Sederhana, namun tetap khidmat.

Hal lain yang saya dapatkan dari acara nikah di daerah adalah tidak jelasnya batasan pengunjung. Dalam artian siapa saja bisa menonton dan duduk di sekitaran tempat yang sudah disediakan. Rumah tetangga pun dilibatkan dalam acara tersebut.

Situasi yang seperti ini bukanlah sesuatu yang negatif. Justru menunjukkan tingginya nilai kekeluargaan di sana.

Mempelai pria tiba di lokasi

Yang dinanti pun disambut oleh pihak keluarga perempuan


Mempelai pria disambut oleh calon mertua

Setibanya di panggung utama, mempelai pria menunggu sambil ditemani para tetua

Penjual balon tidak mau melewatkan kesempatan

Mempelai pria sedang mendengarkan tata cara akad sebelum acara utama dimulai

"Sah!"



Pasangan pengantin baru


Foto wajib setelah resmi jadi pengantin

Mang balon tetap setia menunggu 

Acara pernikahan berlangsung sekitar dua jam. Meskipun suhu saat itu cukup membuat gerah, tapi acara berakhir dengan baik. Dan seperti acara pernikahan lainnya, setelah semua selesai, para tamu pun pergi meninggalkan lokasi. Termasuk kami.

Selepas pergi dari desa Kasokandel, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Majalengka terlebih dahulu. Sekalian lewat makdusnya. Di sana kami berkunjung ke makam kakek-nenek dan diteruskan ke rumah saudara.

Kami berada di Majalengka mungkin sekitar satu jam sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung.

Memasuki kota Majalengka

Makam kakek dan nenek

Suasana di dalam makam

Sama seperti waktu pergi, perjalanan kembali ke Bandung ternyata juga lancar-lancar saja.Kami sedikit tersendat ketika memasuki Tanjung Sari dan kembali tersendat ketika kami hendak memasuki tol Cileunyi karena ada pertemuan arus. Tapi setelah itu, semuanya lancar dan kami bisa langsung memacu kendaraan menuju Bandung dan tiba di tol Pasteur sekitar jam lima sore.

Perjalanan menuju Bandung di Cadas Pangeran

Bekas longsoran di Cadas Pangeran

Pesan sponsor di tol Pasteur

Sampai di pintu tol Pasteur

Pemandangan sore itu dari jembatan Pasupati

Perjalanan kali ini terasa menyenangkan buat saya. Meski hanya sehari, tapi saya bisa mendapatkan apa yang saya cari: suasana baru. Hijaunya pemandangan, indahnya mentari, dan bisa bersilaturahmi dengan saudara mampu menghapus sebagian rasa jenuh saya yang saya rasakan di Jakarta.

Selain itu, bisa duduk di kursi penumpang dan mengambil foto merupakan kenikmatan yang besar buat saya karena selama ini kalau ke Majalengka saya lebih sering jadi supirnya.

Setelah perjalanan ini selesai, saya masih berada di Bandung sampai dengan 27 Desember 2016, dan selama di sana, saya sebisa mungkin memanfaatkan waktu yang ada untuk jalan-jalan seputar Bandung.

Melelahkan memang, karena di Bandung saya lebih banyak jalan kaki. Tapi setidaknya ada kepuasan di hati karena bisa tersenyum melihat kegiatan masyarakat sekitar sambil menikmati suasana kota Bandung itu sendiri.

Apakah jenuhnya hilang? Tidak sepenuhnya. Kenapa? Karena liburnya ternyata kurang panjang :)

 

No comments:

Post a Comment