31 December 2016

Sederhana Pestanya, Bahagia Pernikahannya

DSC_0423

Pernikahan merupakan sebuah anugerah dan wujud kebahagiaan bagi sepasang manusia dalam membangun rumah tangga baru. Tak hanya mempersatukan dua insan yang berbeda, pernikahan juga mampu menyatukan hubungan dua keluarga dalam sebuah jalinan persaudaraan yang indah.

Meskipun begitu, acara pernikahan acapkali menjadi tantangan yang tidak mudah bagi kedua mempelai karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengadakan pesta pernikahan. Bahkan tidak sedikit yang menunda karena merasa dana yang dimiliki belum cukup untuk membiayai pesta pernikahan tersebut.

Memang betul, besar kecilnya sebuah pesta pernikahan adalah pilihan masing-masing pasangan yang umumnya dibuat berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak. Dengan begitu, apapun yang disepakati oleh masing-masing pihak merupakan hak yang harus kita hormati.

Saya sendiri beranggapan bahwa sebuah pesta pernikahan sebaiknya diadakan secara sederhana dan disesuaikan dengan kondisi keuangan yang sebenarnya.

Karena pada hakikatnya, pesta pernikahan hanyalah sebuah bagian kecil dari kehidupan berumah tangga yang sesungguhnya. Durasinya pun sangat pendek. Tidak lebih dari sehari dan bahkan hanya beberapa jam saja.

Sehingga tidak realistis rasanya jika kita harus mengalokasikan dana sebegitu besar untuk sebuah acara yang berdurasi singkat dan relatif tidak memberikan nilai tambah untuk keberlangsungan pernikahan itu sendiri. Apalagi jika pesta pernikahannya sampai dibiayai dari utang.

Mengambil utang untuk membiayai pesta pernikahan menurut saya adalah langkah yang beresiko tinggi dan cenderung terlalu dipaksakan. Utang akan secara langsung mempengaruhi ketahanan finansial sebuah keluarga dan akan terus seperti itu sampai utang tersebut dilunasi.

Sebuah pesta pernikahan yang dibiayai dari utang dalam pandangan saya adalah sebuah beban rumah tangga yang sebenarnya tidak perlu ada.

Lalu kalau kita bicara acara pernikahan sederhana, akan timbul sederhana yang seperti apa? Karena boleh jadi kata sederhana memiliki arti yang berbeda dari satu orang ke orang lain.

Bagi saya pribadi, acara pernikahan yang sederhana adalah acara pernikahan yang realistis dan masih dalam batas kemampuan bayar yang sebenarnya. Itu pun setelah mempertimbangkan berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk menopang kebutuhan rumah tangga setelahnya.

Misalnya begini, jika kebutuhan setelah menikah itu adalah 30 juta (untuk beli furnitur, kulkas, mesin cuci dan lain-lain). Sedangkan dana yang tersedia adalah 50 juta, maka pesta pernikahan yang realistis menurut saya ada dikisaran 15-17 juta saja atau bahkan kurang dari itu.

Karena buat apa kita mengadakan sebuah acara yang mahal dan berakhir dalam waktu singkat, tapi setelahnya malah membuat kita susah untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.

Kesederhanaan sebuah pesta pernikahan mungkin tidak perlu sampai seperti kisah Muhammad Fadhil Isa dan Siti Norazlin Salim dari negeri Jiran.

Namun begitu, saya tetap mengapresiasi pandangan mereka yang mempercayai bahwa keberkahan pengantin tidak terletak pada seberapa meriah pesta pernikahannya dan memilih untuk memanfaatkan uang simpanan sebagai bekal rumah tangga.

Apa yang dilakukan oleh mereka menurut saya adalah tindakan yang realistis dan merupakan sebuah langkah tepat dalam mengawali sebuah pernikahan.

Saya juga berpendapat bahwa pesta pernikahan yang sederhana lebih membawa kebahagiaan ke depannya dibanding dengan pesta mewah yang hanya menyisikan sedikit tabungan atau malah meninggalkan utang.

Jika ada yang mengatakan kemewahan pesta pernikahan perlu dilakukan karena menikah cuma sekali seumur hidup, maka saya berpendapat pernyataan tersebut hanyalah sebuah pembenaran yang naif.

Karena meskipun niatnya seperti itu, tidak ada jaminan bahwa pernikahan hanya akan terjadi satu kali saja. Bisa saja di depannya yang bersangkutan malah menikah lebih dari itu karena berbagai alasan.

Lalu bagaimana dengan sanak saudara, kerabat, dan tetangga? Masak tidak diundang?

Nah, untuk menjawab pertanyaan di atas mungkin bisa dijawab dengan pertanyaan juga.

Seberapa realistis kita terhadap kemampuan finansial kita sendiri? Mampukah kita membiayai pesta pernikahan tanpa harus mencederai ketahanan finansial rumah tangga yang baru kita bangun? Haruskah mengundang sekian banyak orang? Jika kita bisa menjawab semua itu dengan jujur, saya rasa jawabannya ada di situ semua.

Saya tidak mengatakan bahwa yang diundang harus sedikit, karena seperti yang saya sudah sebut di atas, sederhana itu relatif. Sederhananya pegawai mungkin tidak akan memiliki arti yang sama di mata seseorang yang memiliki kemampuan finansial yang lebih baik.

Pernikahan merupakan sebuah anugerah dan wujud kebahagiaan bagi sepasang manusia dalam membangun rumah tangga baru. Meskipun begitu, acara pernikahan acapkali menjadi tantangan yang tidak mudah bagi kedua mempelai karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengadakan pesta pernikahan.

Sebuah pesta pernikahan sebaiknya diadakan secara sederhana dan disesuaikan dengan kondisi keuangan yang sebenarnya. Karena pada hakikatnya, pesta pernikahan hanyalah sebuah bagian kecil dari kehidupan berumah tangga yang sesungguhnya.

Kesederhanaan sebuah pesta pernikahan mungkin tidak perlu sampai seperti kisah pasangan dari negeri Jiran. Meskipun begitu, pesta pernikahan yang sederhana tetap akan meringankan beban finansial rumah tangga kita ke depannya.

 

No comments:

Post a Comment