29 January 2017

Belanja Dengan Utang

Saya tertegun setelah melihat video di atas yang menceritakan bagaimana seorang pensiunan guru yang harus bersepeda tengah malam demi mendapatkan nomor antrian di sebuah kantor lembaga keuangan.

Beliau melakukan ini untuk mengambil sisa gaji yang sudah dipotong untuk cicilan utangnya sebesar 80 juta rupiah. Selama lima tahun beliau hanya menerima Rp. 395,000 dari gaji pokok sebesar Rp. 3,904,200.

Kalau dijumlahkan, maka total uang yang harus bayarkan untuk melunasi utang (termasuk bunganya) adalah Rp. 210,000,000!

Sedih sekali ketika kita menonton dan mengetahui kisah-kisah seperti ini. Apalagi ketika menimpa mereka yang berpenghasilan rendah. Tapi sayang, kisah serupa sepertinya akan lebih sering kita temui seiiring dengan makin maraknya fasilitas kredit dan banyaknya konsumen yang memilih untuk mencicil dalam berbelanja.

Kredit Konsumtif

Ketika saya membaca artikel ekonomi yang menyatakan bahwa kredit konsumtif menjadi penopang pertumbuhan kredit di tanah air (Bisnis.com, Tempo.co),  hati saya merasa miris.

Miris karena kondisi tersebut dapat diartikan sebagai bertambahnya orang yang masuk ke dalam pusaran utang dan riba. Dengan semakin tumbuhnya penyaluran kredit konsumtif, maka semakin kuat pula pusaran utang dan riba tersebut.

Kredit konsumtif dalam pandangan saya adalah salah satu jenis kredit yang paling beresiko.

Alasannya sederhana saja, yaitu karena kredit konsumtif sering digunakan untuk belanja barang ataupun jasa yang tidak produktif. Debitur pun acapkali memilih jalur kredit karena pembelian mereka didorong oleh keinginan-keinginan sesaat. Bukan karena kebutuhan yang sesungguhnya (compulsive buying).

Mudah Tergoda

Saya berpendapat bahwa dengan semakin mudahnya konsumen mengambil kredit, maka semakin mudah pula mereka untuk terjerumus dalam lilitan utang.

Ini jelas mengkhawatirkan, karena ketika seseorang sudah terbiasa untuk berutang, maka akan sulit baginya untuk mengatur keinginan-keinginan sesaatnya. Akibatnya, orang tersebut makin mudah digoda oleh iklan, promosi, dan tawaran membeli dengan cara mencicil.

Meskipun mungkin pendapatan kita bisa mengcover seluruh cicilan-cicilan yang ada, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa menambah-nambah cicilan hanya akan melemahkan ketahanan keuangan keluarga.

Pos-pos anggaran yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang layak, terpaksa dikorbankan karena uangnya harus digunakan untuk mencicil tagihan.

Contohnya uang makan ditekan sedemikian rupa karena terlanjur digunakan untuk membeli peralatan elektronik. Gizi keluarga terabaikan demi sebuah gadget termutakhir.

Lalu karena ingin ganti kendaraan ke model yang paling baru, anak dimasukkan ke sekolah yang kualitasnya lebih rendah lantaran biayanya lebih murah. Padahal kalau dikumpulkan, uang tersebut bisa digunakan untuk masuk ke sekolah yang lebih baik.

Kemudian karena ingin eksis di sosial media, rela mengambil utang untuk membeli aksesories mahal untuk di posting di lini masa. Padahal kalau ingat bayarnya, justru bikin sakit kepala.

Ironis bukan? Kepemilikan barang yang seharusnya membuat kita nyaman, malah justru membuat hidup ini jadi sengsara.

Gaya Hidup

Dari apa yang saya amati selama ini, gaya hidup mempunyai peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi keputusan apakah barang dibeli tunai, mencicil, atau justru ditunda.

Seseorang yang memiliki gaya hidup kompetitif dalam hal kepemilikan barang ataupun penampilan, biasanya akan lebih berani untuk mengambil utang baru agar bisa bertahan di kekiniannya. Baik itu berkaitan dengan kendaraan, barang elektronik, fashion, pengalaman berkelana, ataupun hal-hal lainnya.

Bagi penyedia kredit, gaya hidup seperti ini sangatlah menarik karena konsumen yang seperti ini akan lebih mudah untuk menerima promosi kredit. Semakin banyak yang dibeli melalui cicilan, maka semakin besar pula keuntungan lewat bunganya.

Tidak dipungkiri ketika kita membeli barang baru, maka akan ada rasa senang di hati. Namun kesenangan itu akan pudar relatif cepat karena keinginan yang menggebu-gebu sebelum mendapatkannya telah berubah menjadi sesuatu yang relatif – biasa.

Saat itu terjadi, maka kewajiban cicilan menjadi begitu nyata. Ketika cicilan utang dan bunganya menjadi nyata, maka saat itu cemas menyapa. Ketika cemas menyapa, hidup pun menjadi tidak bahagia.

Bersikap Realistis dan Hindari Utang Baru

Saya cukup sering mendengar alasan yang mengatakan “Kalau ngga kredit, kapan punyanya?”

Menurut saya ini lucu. Karena pada hakikatnya barang yang kita cicil bukanlah milik kita sampai kita lunasi pembeliannya. Sehingga makin banyak barang cicilan yang ada di rumah, maka makin banyak pula barang yang sebenarnya bukan punya kita. Bahkan boleh dibilang rumah kita hanya jadi tempat penyimpanan sementara.

Lalu bagaimana kita menyikapi kredit?

Jawabannya cuma satu, bersikap realistis.

Bersikap realistislah dengan kondisi keuangan yang ada saat ini dan prioritaskan hal-hal yang lebih penting. Fokuslah untuk melunasi utang yang sudah ada dan hindari membuat utang-utang baru agar keuangan keluarga lebih terjaga kesehatannya.

Tanya kembali ke diri sendiri apakah pembenaran-pembenaran yang kita buat untuk mendapatkan barang tersebut memang benar-benar dibutuhkan? Atau itu dibuat sekedar untuk memenuhi keinginan sesaat?

Apakah barang yang yang sudah dimiliki sudah sedemikian usangnya sehingga harus cepat-cepat diganti? Harga diri apa yang “hilang” dari menggunakan barang yang tidak kekinian padahal usia pakainya masih sangat panjang?

Jujurlah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya yakin pembenaran-pembenaran yang kita buat untuk bisa memiliki barang yang kita inginkan hanyalah pembenaran yang dipaksakan.

Bernegosiasilah dengan diri sendiri dengan mencari jalan alternatif untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Meskipun itu artinya harus menunggu lebih lama dan menunda belanja sampai barang tersebut lebih terjangkau harganya.

Penuhilah kebutuhan dasar dengan layak dan janganlah keinginan untuk membeli sampai mengurangi hak-hak anggota keluarga atau bahkan sampai mengambil seluruhnya.

* * *

Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh berbagai lembaga pembiayaan untuk kredit konsumtif membuat hati miris. Apalagi ketika kredit konsumtif dijadikan penopang pertumbuhan kredit di tanah air oleh sejumlah instusi keuangan.

Kondisi ini sedikit banyak bisa diartikan sebagai bertambahnya orang yang masuk ke dalam pusaran utang.

Sedangkan bagi mereka yang sudah masuk di dalamnya, menambah-nambah utang hanya akan membebani keuangan keluarga karena harus berurusan dengan bunga cicilan yang tidak mengenal belas kasihan.

Cara terbaik dalam menyikapi ini semua adalah dengan bersikap realistis dengan kondisi keuangan yang sebenarnya. Hindari membuat utang baru dan prioritaskanlah hal-hal yang lebih penting ketimbang terus menuruti keinginan hati.

Fokuslah untuk melunasi utang yang sudah ada dan bernegosiasilah dengan diri sendiri dengan bersikap jujur dan mencari jalan alternatif untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Meskipun itu artinya harus menunggu lebih lama dan menunda belanja.

 

No comments:

Post a Comment