25 January 2017

Cari Jodoh Sesuai Tujuan Mudik



Mudik adalah tradisi tahunan yang mempunyai arti yang sangat dalam bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Apalagi bagi para perantau yang mencari penghidupan jauh dari tanah kelahirannya, mudik merupakan pelepas rindu kepada orang tua, sanak keluarga, dan kampung halaman.

Saya ingat ketika saya kecil, hampir tiap tahun saya bersama keluarga menempuh perjalanan di jalur pantura menuju daerah Kuningan untuk berlebaran di kampung Ibu. Setelah itu dilanjutkan ke Majalengka di mana Ayah saya berasal.


Dari pengalaman mudik selama bertahun-tahun tersebut, maka tidak sulit bagi kita untuk mengakui bahwa mudik merupakan tradisi yang membutuhkan perjuangan logistik yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi jika orang tua dan mertua berada di dua lokasi saling berjauhan. Bisa dibayangkan betapa sulitnya mudik dengan kondisi seperti itu.

Melihat hiruk-pikuknya mudik, saya yang ketika itu masih single, mengambil sebuah kesimpulan bahwa dalam mencari jodoh kita harus menerapkan strategi yang bisa meminimalisir beban logistik di saat mudik.

Karena harus diakui, mudik ke satu tempat saja bisa sangat merepotkan dan acapkali membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika harus mudik ke dua tempat yang dipisahkan oleh jarak yang jauh?

Benar saja, mereka yang berada pada kondisi tersebut harus mengeluarkan biaya dan tenaga yang lebih besar. Jika tidak, maka harus bergantian dalam menentukan tujuan mudik di tahun ini dan berikutnya.

Selain memberatkan, mudik seperti ini juga kurang menarik karena harus ada yang dikorbankan dan kehilangan momen untuk bisa berkumpul bersama keluarga di waktu yang istimewa.

Melihat kenyataan tersebut, maka akhirnya saya menerapkan sebuah strategi sederhana dalam mencari pasangan. Yaitu mencari pasangan yang tempat tinggalnya relatif tidak jauh dari lokasi di mana orang tua saya tinggal. Dengan demikian tujuan mudik saya cukup satu.

Berhubung orang tua saya tinggal di Bandung dan setelah keinginan untuk menikah semakin mantap, maka semenjak itu saya untuk memfokuskan diri untuk mencari pasangan di kisaran Bandung Raya.

Pemikiran saya saat itu sederhanana saja: biar lebih gampang dan lebih murah mudiknya.

Alhamdulillah, doa dan usaha saya membuahkan hasil seperti yang saya inginkan. Saya bertemu dan menikah dengan isteri yang berdomisili di kota Cimahi (bersinggungan langsung dengan kota Bandung).

Dengan strategi ini, tradisi mudik menjadi lebih mudah bagi saya dan isteri. Baik dari sisi psikologis, finansial, dan logistik.

Dari sisi psikologis, baik saya dan isteri tidak harus "berebutan" siapa yang mendapat giliran lebaran tahun ini karena kedua orang tua kami relatif tinggal di kota yang sama.

Dari sisi finansial, kami cukup mengalokasikan dana untuk pergi ke satu kota tujuan, Bandung.

Sedangkan dari sisi logistik, kami tidak perlu membawa banyak barang karena hampir semua kebutuhan bisa didapatkan di tempat tujuan.

Keunggulan lain dari mudik model ini adalah kita bisa lebih menikmati suasana kebersamaan karena semuanya bisa dilakukan hanya dengan mengunjungi satu tujuan mudik.

Urusan jodoh memang pada akhirnya ada di tangan Allah. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengatur strategi untuk bisa mendapatkan pasangan yang sesuai dengan keinginan kita.

Dan mengingat mudik merupakan tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari budaya kita, maka ada baiknya untuk mempertimbangkan hal ini dalam mencari jodoh agar bisa memudahkan kita untuk berlebaran bersama keluarga di kemudian hari.

 

No comments:

Post a Comment