18 Des 2017

Menjadi saksi di Aksi Bela Palestina

Hari Minggu (17/12/2017) kemarin Alhamdulillah saya diberi kemudahan untuk bisa ikut dalam aksi bela Palestina di Monas, Jakarta. Keikutsertaan saya kali ini merupakan bentuk dukungan saya terhadap perjuangan saudara kita di Palestina. Selain itu, saya juga berharap apa yang saya lakukan dicatat sebagai amal kebaikan untuk bekal akhirat kelak.
Hari itu saya berangkat sekitar 5:30 pagi menggunakan KRL Commuter Line. Selama perjalanan, gerbong kereta terlihat ramai dengan perserta aksi lainnya. Mulai dari yang muda sampai dengan yang tua. Nampak oleh saya wajah-wajah yang tenang lagi ikhlas menyambut seruan para ulama.

Jujur saya akui menyaksikan itu semua membuat saya terharu. Meski tak saling kenal, tapi terasa sekali persaudaraannya.

Sesampainya di stasiun Gondangdia, saya memutuskan untuk turun dan berjalan kaki menuju Monas bersama yang lainnya. Meski rencana awal saya akan turun di stasiun Juanda, tapi stasiun Gondangdia sepertinya sama saja.

Turun di stasiun Gondangdia menuju Monas.

Setelah kurang lebih 15 menit berjalan kaki, saya tiba di gerbang masuk Monas. Ternyata peserta aksi sudah cukup padat di sana tapi semuanya berjalan dengan tertib. Sehingga saya pun sudah bisa masuk Monas relatif cepat.

Berada di pelataran Monas, pekikan takbir merupakan hal yang saya paling sering dengar dan tak habis-habisnya digaungkan untuk memuji Kebesaran Allah. Sungguh mengesankan.

Saya pun terus menelusuri pelataran Monas dan berharap bisa sedekat mungkin berada di sekitar panggung utama.

Tapi ternyata itu tidak semudah yang saya kira. Karena mendekati panggung utama, saya makin sulit untuk bergerak. Padatnya peserta aksi yang lebih dahulu di sana memaksa saya untuk berhenti di satu titik dan mendengarkan orasi.

Memasuki gerbang Monumen Nasional.


Padatnya peserta aksi di depan panggung utama
Tak butuh waktu lama bagi peserta aksi untuk mengisi ruang yang ada di Monas.
Meski padat, aksi bela Palestina tetap berlangsung tertib.


Hal paling unik dari seluruh orasi menurut saya adalah saat Menteri Agama maju ke podium. Suasana berubah riuh meminta beliau untuk turun panggung. Meski para ulama mencoba menenangkan, tapi tetap terdengar jelas peserta tidak menginginkan sang menteri tampil lebih lama.

Setelah beberapa lama mendengarkan orasi, saya memutuskan untuk lebih banyak mengambil foto dan mulai fokus untuk memotret momen-momen yang ada di sana.

Panji-panji Rasullah yang terus berkibar sepanjang aksi berlangsung.
Seorang peserta ucapkan Takbir saat di foto.
Kibaran bendera Palestina bisa terlihat di mana-mana.
Pengibar bendera seakan tak pernah kehabisan tenaga. Terus mengibarkan sepanjang acara berlangsung.
Tangan peserta aksi bersama-sama menyambut datangnya bendera Merah Putih.
Saya akui memotret di kerumuman massa aksi bela Palestina bukanlah perkara mudah. Meski saya sudah berusaha menerobos masuk, namun saya tidak bisa maju sejauh yang saya mau. Padatnya peserta juga menyulitkan saya untuk mendapat sudut pandang yang lebih beragam.

Menyadari hal ini, akhirrnya saya memilih mundur.

Karena tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk memotret lebih dekat panggung utama, saya memilih untuk mendekat di Posko Daarut Tauhid (DT). Selain disarankan oleh teman untuk bertemu di sana, saya juga ingin tahu lebih jauh tentang pasukan bersih DT yang dipimpin oleh Aa Gym.

Ini adalah pertama kalinya saya melihat langsung bentuk pasukan tersebut dan terus terang saya salut dengan mereka.

Selama acara berlangsung, mereka duduk rapi menunggu dengan sabar acara berakhir. Meski beberapa kali diiringi rintik hujan, mereka tidak berpindah tempat dan tetap siaga sampai komando untuk bersih-bersih diberikan.

Padatnya kerumunan massa tidak memungkinkan untuk mendekat lebih jauh.
"Senjata" utama dari Daarut Tauhid.
Rintik hujan tidak menyurutkan mereka untuk tetap pada posisinya.
Meski hujan mereka tetap sabar menunggu komando.
Duduk rapih sambil mengisi waktu sampai arahan berikutnya diberikan.
Mendekati pukul 10, perlahan-lahan peserta yang sedari pagi berada di kawasan monas terlihat mulai mengambil jalan pulang. Saya pun terpikir untuk melakukan hal yang sama. Tapi sebelum itu, saya ingin bertemu dengan rekan saya yang juga datang ke aksi ini.

Agak sulit untuk menemukan mereka, karena komunikasi yang terhambat. Jalur Internet di sekitar Monas sepertinya di blokir. Pesan WhatsApp terasa betul lambat sampainya dan lambat pula untuk mengirimkannya. Beruntung sinyal handphone untuk telepon masih berjalan dengan baik sehingga kami bisa berkomunikasi untuk menentukan titik temu.

Pesan untuk Donald Trump.
Keputusan Trump yang menyatukan suara umat Islam di seluruh dunia.
Setelah mengobrol dan berfoto bersama dengan rekan saya tadi, tak lama kemudian saya memutuskan untuk pulang melalui jalur kedatangan pagi tadi.

Tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya kalau jalur pulang ternyata masih sangat padat. Banyak peserta yang baru saja datang juga menggunakan jalur ini untuk masuk ke area Monumen Nasional. Tak ayal kemacetan manusia pun terjadi. Saya tidak tahu secara pasti, tapi setidaknya 40 menit saya terjebak dalam kemacetan ini.

Kemacetan manusia karena benturan arus masuk dan keluar.
Seorang ulama memberikan orasi di atas mobil komando. Terjebak di antara kerumunan peserta aksi bela Palestina.
Setelah berhasil melewati kemacetan dan menuju ke stasiun Gondangdia.
Meski lelah dan sesak, bisa ikut dalam aksi bela Palestina merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Bisa terjun langsung dalam aksi damai seperti ini, makin membuka mata akan indahnya solidaritas dan persaudaraan dalam agama Islam.

Alhamdulillah saya diberi kemudahan oleh Allah sehingga bisa hadiri acara ini untuk berikan dukungan saya terhadap perjuangan rakyat Palestina. Semoga apa yang saya lakukan di hari Minggu kemarin, akan dicatat sebagai amal kebaikan saya di akhirat kelak.

Amiiin.

Share This:

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar