Gorengan yang paling disukai


Rasanya tidak salah kalau saya bilang gorengan adalah cemilan paling populer di Indonesia. Bahkan mungkin sudah menjadi jajanan harian yang wajib ada bagi mereka para penikmat gorengan.

Saya sendiri termasuk orang yang suka dengan gorengan, tapi tidak sampai beli tiap hari. Hanya saat iseng atau ketika tiba-tiba ingin beli.

Nah, di dekat rumah, ada penjual gorengan dekat Alfamidi yang risolnya enak sekali. Untuk mendapatkannya, kita harus ke sana pagi-pagi karena kalau sampai kesiangan biasanya sudah habis. Yap, sebegitu populernya.

Selain risol, gorengan berikutnya yang cukup enak di situ adalah pisang dan tahu gorengnya. Saya biasanya beli 10 ribu dan minta ke Ibu untuk mencampur ketiga jenis gorengan tadi. Ibu juga menjual tempe, bakwan, dan pisang molen. Tapi sayangnya tidak menjual cireng. Padahal saya yakin kalau ada, cireng akan jadi salah satu primadona juga.

Rahasia menikmati gorengan menurut saya adalah memakannya saat masih panas. Apalagi kalau dipadu dengan cabe rawit, bikin nagih. Kalau tidak ingat yang lain, bisa-bisa habis sama diri sendiri.

Selain itu, gorengan sepertinya juga jadi cemilan pendamping saat minum kopi pagi ya? Saya sendiri kurang tahu karena bukan peminum kopi. Tapi dari apa yang teman saya ceritakan, minum kopi sambil makan gorengan terdengar begitu menggoda.

Bicara soal gorengan, ada sisi menarik yang suka jadi bahan omongan: kertas bungkusnya.

Sudah menjadi rahasia umum kalau bungkus gorengan suka menyimpan informasi-informasi penting yang sepatutnya tidak tersebar di sembarang tempat. Seperti misalnya fotokopi ijazah, surat resmi, CV, dan sebagainya.

Entah bagaimana ceritanya informasi-informasi tersebut bisa sampai tercecer sampai sebegitunya. Yang jelas, praktek buang dokumen penting seperti ini masih saja berlangsung.

Kemudian soal kebersihan.

Saya tidak tahu seberapa bersih kertas bungkusan yang digunakan oleh para pedagang gorengan. Tapi saya duga mereka juga membeli dari penjual bungkusan hasil mendaur ulang kertas bekas.  Jadi bisa dibayangkan dong?

Dilematis, tapi juga ajaib, karena dari yang saya amati selama ini konsumen sepertinya tidak terlalu memusingkan soal itu.

Mereka mungkin akan membaca sekilas, tapi tidak lebih dari itu. Karena lebih penting menikmati gorengannya daripada memperhatikan tulisan ataupun memikirkan soal kebersihan bungkusan.

Saya pribadi lebih suka bungkusan gorengan yang bagian dalamnya polos, karena terlihat lebih bersih dan tidak ada bekas tinta printer. Jadi ya, terlihat lebih aman lah. Mudah-mudahan.

Kalau Anda bagaimana? Apakah suka beli gorengan juga? Kalau iya, gorengan apa yang biasanya dibeli? Atau justru lebih senang bikin sendiri?

Share This:

 

4 komentar:

  1. wah, ada benernya juga mas.
    lewat artikel mas, saya jadi bener-bener engeh kalau pembungkus gorengan biasanya berkas-berkas penting itu.

    worry disalahgunakan yg lain ya mas. mesti ada kertas pembungkus gorengan khusus nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu Mba Liana. Praktek seperti ini sebaiknya dihentikan, terutama yang menyangkut informasi pribadi dan informasi penting lainnya. Apalagi info yang ada di kertas gorengan bisa dilacak pakai Google. Bisa jadi disalah gunakan.

      Hapus
  2. Udh mulai ngurangin sih, walo sesekali msh makan mas :). Tp aku perhatiin banget belinya ga mau dr penjual yg lapaknya terbuka. Kena debu dan segala macemnya sereeem. Jd gerobaknya hrs tertutup lah, dan kalo mau aman, mnding bawa wadah sendiri. Jd kalo nitip beli gorengan lwt ob ku, aku slalu suruh dia pake wadah makananku. Jd ga dibungkus kertas

    BalasHapus
  3. Gw walaupun super doyan sama gorengan, sekarang udah harus dadah dadah sama gorengan, secara sekarang setiap abis makan gorengan langsung tenggorokan seret

    BalasHapus