Memotret lansia dan refleksi diri


Saat saya berjalan kaki sambil membawa kamera, saya suka menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dan ngobrol dengan lansia yang saya temui di jalan. Ada rasa penasaran dalam diri saya untuk mengetahui tentang mereka dan bagaimana cara mereka menghadapi ujian hidup.

Ketertarikan saya untuk melakukan itu mungkin didasari oleh pencarian dalam diri saya sendiri. Pencarian untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup yang saya jalani, serta sebagai bahan renungan tentang kekuasaan Allah.

Ketika saya melihat sesosok lansia di jalan, saya tidak kuasa untuk berpikir tentang hidup saya sendiri. Kelak bila diberi kesempatan, saya pun akan menjadi tua, keriput, dan renta seperti mereka.

Akankah saya bisa lebih bijaksana ketika berada di posisi itu? Ataukah saya masih seperti sekarang, yang kerap bersikap emosional dan bertindak bodoh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akhirnya mendorong saya untuk menyapa, mengajak bicara, dan memotretnya.



Dari obrolan dengan mereka, seringkali saya temukan kekaguman atas kegigihan dalam menjalani hidup. Jawaban-jawaban mereka membuat saya terdiam dan kerap menohok keangkuhan diri saya sendiri. Terlebih saat mengetahui kondisi saya ternyata masih lebih baik dari mereka.

Alangkah malunya saya atas keluh kesah dan prasangka terhadap Sang Ilahi.

Pertemuan-pertemuan saya dengan sejumlah lansia juga mengingatkan saya akan Ayah. Sosok yang dulu kuat kesana kemari, kini makin berkeriput, melambat, dan melemah. Meski semangat dan ketegarannya masih terpancar, tapi tak terpungkiri bahwa dia sudah tak seperti yang dulu lagi.



Saya teringat ketika menemaninya potong rambut. Saat itu saya duduk di belakang dan mengamatinya diam-diam. Ada rasa sesal, iba, dan sayang yang saya rasakan saat itu. Sesal tidak bisa tinggal dekat darinya, iba melihat tubuhnya yang makin tua, dan sayang ingin menjaga dan membahagiakannya.



Jika saya diberi umur yang lebih panjang, maka menjadi tua adalah sebuah kepastian.

Saya tidak tahu apakah saya akan jadi lebih bijak di hari tua nanti, dan apakah saya bisa menjadi seorang hamba yang lebih baik lagi. Tapi yang jelas, memotret lansia membantu saya untuk lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih dalam dalam berpikir, dan lebih merenungi nikmat Allah yang diberikan kepada saya selama ini.

Share This:

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar