30 Mar 2018

Beda ember, beda nasibnya

Photo by Lubomirkin on Unsplash

Saat berkunjung ke pasar, saya biasanya suka mampir ke toko peralatan rumah tangga untuk melihat-lihat produk plastik yang baru. Mulai dari gayung, termos, piring, sendok, sampai ember.

Khusus untuk ember, warnanya bermacam-macam, dan yang paling sering saya lihat itu warna hitam, hijau, dan merah. Sesekali ketemu warna biru, tapi tidak pernah lihat warna kuning. Padahal kalau ada sepertinya lucu juga.

Menurut saya ember itu suka dipandang sebelah mata. Dibutuhkan, tapi suka diperlakukan seenaknya saja. Bahkan suka dikaitkan dengan perilaku negatif manusia. Lihat saja kalau ada orang yang suka gosip atau tidak bisa jaga rahasia. Pasti dibilang mulutnya ember. Bocor kemana-mana.

Padahal apa salahnya ember? Ember justru untuk menampung air biar tidak tercecer. Beda dengan tukang gosip ataupun yang tidak bisa jaga rahasia.

Anyway, saya perhatikan nasib ember juga beda-beda.

Ember yang paling sengsara menurut saya adalah ember untuk adukan semen. Mereka harus pasrah diisi adukan untuk ngecor. Setelah isinya dituang, dia juga harus sabar dilempar-lembar. Mungkin itu sebabnya ember semen dibuat seperti plintat-plintut. Mereka harus bisa fleksibel saat terima benturan.

Tapi sesabar-sabarnya ember semen, tetap saja mereka lebih cepat bocor karena perlakuan yang semena-mena.

Sebaliknya, ember untuk mandi bayi kerjanya cukup santai. Mereka mendapat perlakuan lebih baik supaya aman digunakan dan sering dibersihkan. Tak heran kalau ember bayi jadi tahan lama dan kemilaunya tetap terjaga.

Bicara soal ember, saya penasaran juga sih bagaimana ember-ember plastik itu dibuat. Sejauh yang saya tahu, setiap bentuk ember itu punya cetakan dasarnya.

Nah, setelah mencari di YouTube, saya menemukan video menarik ini: mesin cetak untuk ember cat. Saya pikir ini tidak berbeda jauh dengan pembuatan ember-ember lainnya.

Oh, ember cat menurut saya adalah ember yang tidak akan khawatir jadi pengangguran. Karena selesai ngecat, mereka bisa langsung ganti pekerjaan jadi ember untuk menampung air. Tapi kalau terpaksa sekali, mereka mau-tidak-mau harus rela jadi tong sampah.


Kenapa saya ngeblog soal ember? Tidak ada alasan yang jelas sebenarnya. Tapi kemarin saya melihat motor saya kotor, dan teringat betapa susahnya mencuci motor kalau tidak ada ember.

28 Mar 2018

Ngeblog satu dekade



Sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya mendaftarkan domain adityafajar.com dan tidak pernah terpikirkan oleh saya kalau domain ini akan aktif selama itu.

Saat mendaftarkan, saya tidak punya rencana khusus. Hanya ingin belajar membuat blog dengan domain sendiri menggunakan Wordpress. Setelah jadi, saya mulai iseng menulis tentang macam-macam hal yang ada dalam kepala saya. Banyak yang tidak penting, tapi melegakan. Karena bisa mengarahkan kepala saya yang suka mikir kesana kemari.

Meski sudah sekian lama aktif, tapi dalam perjalanannya adityafajar.com pernah mengalami mati suri. Yaitu saat saya berhenti menulis dan membiarkan blog ini dalam kondisi terbengkalai. Memalukan memang dan saya tidak bangga dengan itu.

Selain mati suri, blog saya juga sudah berkali-kali pindah hosting. Tapi kalau ini lebih disebabkan oleh rasa penasaran saya untuk membandingkan dua platform blogging yang berbeda: Wordpress dan Blogger. Setelah coba sana dan sini, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan Blogger saja. Alasannya cuma satu, karena blog ini tidak saya gunakan untuk mencari uang.

Dari pengalaman saya punya blog, tantangan terbesar memang dari sisi kontennya. Ada kalanya punya banyak ide yang ingin ditulis, tapi tidak terealisasikan karena berbagai alasan. Sebaliknya, ketika punya waktu dan mau menulis, ide-ide itu malah hilang entah kemana.

Nah, sekarang saya mencoba lagi untuk menulis dan berusaha jadi lebih teratur dalam mempublikasikan artike-artikel yang saya buat. Karena jujur saya akui, blogging adalah salah satu aktivitas yang saya nikmati prosesnya. Selain mengurai apa yang ada di kepala, ngeblog juga membantu saya menenangkan pikiran.

Semoga ke depannya saya bisa konsisten untuk terus menulis di blog ini dan tidak lagi dipadamkan semangatnya oleh kemalasan saya sendiri.

Bismillah!

18 Mar 2018

Karena perut ngga bisa nunggu



Dalam urusan keuangan keluarga, satu hal yang saya selalu tekankan kepada istri adalah jangan berutang. Sebisa mungkin bayar tunai atau tunda pembelian jika belum mampu.

Jangan lupa pula untuk berdoa kepada Allah agar dimudahkan dan diberi kemampuan untuk membeli barang yang diinginkan.

Namun jika tidak juga tercapai, maka itu tetap lebih baik daripada memaksa membeli secara kredit.

Saya memang memilih untuk menghindari utang, apapun alasannya. Apalagi untuk pembelian produk-produk konsumtif seperti furnitur, elektronik, pakaian, jalan-jalan, kendaraan, ataupun makanan.

Pilihan saya untuk menghindari utang salah satunya didasari oleh pengalaman pribadi membeli sepeda motor dengan cara kredit. Meski tidak pernah ada masalah dalam pembayaran, tapi saya merasa gerah dengan cicilan tiap bulannya.

Saya merasa terperangkap, kehilangan kebebasan, dan merugi. Apalagi setelah dihitung-hitung lagi, ternyata uang yang saya bayarkan jauh di atas harga jualnya. Padahal di saat lunas, harga motor saya sudah di bawah setengah harga beli. Cuma hanya karena ingin motor baru saya jadi kehilangan begitu banyak.

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi membeli barang dengan cara mencicil.

Dalam prakteknya, memilih untuk tidak berutang memang gampang-gampang susah. Karena ada kalanya godaan untuk membeli datang tiba-tiba. Apalagi kalau saat itu kita lagi semangat-semangatnya ingin punya. Mencicil seperti menjadi jalan keluar yang paling mudah untuk mendapatkan barang yang kita mau.

Tapi syukurlah, sampai saat ini saya dan istri masih bisa menahan diri. Kami memilih untuk menabung saja daripada memaksa membeli. Karena toh, keinginan untuk membeli belum tentu sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya. Justru dengan menunda, kita jadi punya waktu untuk berpikir ulang secara lebih rasional.

Dari sekian tahun menghindari utang, keuntungan paling besar yang saya rasakan adalah tidak kelaparan. Yap, saya tidak kelaparan dan punya pilihan untuk makan yang enak-enak tanpa ada rasa khawatir bagaimana bayarnya.

Bukankah ironis, ketika seseorang bisa mendapatkan barang terbaru tapi ujungnya malah kehabisan uang untuk makan sehari-hari? Saya tidak mau seperti itu.

Istri saya suka bilang, "perut ngga bisa nunggu", dan saya setuju sekali. Ucapan ini adalah pengingat saya bahwa urusan perut lebih utama daripada kepemilikan barang. Karena perut yang kenyang akan memudahkan kita dalam mencari uang dan perut keluarga yang kenyang akan bikin hidup tenang.

Dalam keuangan keluarga, utang bisa menjadi momok yang menggelisahkan dan saya selalu menekankan kepada istri untuk menghindarinya. Menunda dan berdoa adalah jalan yang lebih baik daripada harus memaksakan diri untuk berutang. Bahkan tidak jadi memiliki pun masih lebih baik daripada terjebak dalam cicilan.

Selain itu, saya juga tidak ingin terjebak dalam situasi di mana saya dan keluarga jadi susah makan lantaran uang yang ada habis untuk membayar kreditan. Perut ngga bisa nunggu adalah ucapan yang benar adanya dan ini mengingatkan kita bahwa urusan perut tetap lebih utama.

Oleh karenanya, hindarilah utang sebisa yang kita mampu. Jangan sampai hasrat untuk memiliki barang justru malah membawa masalah baru karena ulah kita sendiri yang terburu-buru.

14 Mar 2018

Romantis bersama Nanami




Tidak sengaja menemukan tulisan Mas Didik Darmanto tentang mimpi beliau untuk bisa mengantar anaknya sekolah membuat saya terharu dan teringat pada diri sendiri.

Saya pun akhirnya hanya bisa mengucap Alhamdulillah, karena saya masih diberi kemudahan oleh Allah untuk bisa mengantar anak ke sekolah setiap hari.

Sebelum membaca posting Mas Didik, tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa momen mengantarkan Nanami ke sekolah adalah sesuatu yang romantis. Bagi saya itu hanya sebuah rutinitas sehari-hari saja.

Tapi kalau diingat-ingat lagi, saya sebenarnya sangat menikmati kebersamaan kami saat mengantar Nanami ke sekolah. Sebuah kebersamaan di mana saya dan Nanami terasa dekat dan bisa ngobrol dari hati ke hati.

Kalau saja saya tidak membaca tulisan Mas Didik, saya mungkin tidak akan akan memikirkan hal ini dari sudut yang berbeda. Namun sekarang, saya benar-benar menyadari bahwa momen-momen sederhana seperti ini adalah kenangan yang sangat berharga. Rangkaian memori yang akan selalu saya kenang.


Nanami adalah permata hati saya. Anak perempuan satu-satunya yang suka membuat saya kesal tapi begitu sering saya rindukan.

Entah kenapa, keberadaan Nanami juga membuat saya jadi seorang ayah yang cemburuan. Tidak rela kalau dia sampai tersakiti. Tak hanya itu, saya juga suka baperan sendiri kalau membayangkan saat dia remaja nanti. Khawatir tingkat tinggi!

Namun saya menyadari bahwa Nanami akan tubuh dan berkembang menjadi seorang wanita dewasa. Saya tidak mungkin menghentikan itu.

Apa yang bisa saya lakukan sekarang adalah mendidik, membimbing, dan mendoakan untuk kebaikan dan keselamatan dirinya. Saya pun akan terus mencoba memaknai kebersamaan saya dengan Nanami sebagai sesuatu yang berharga. Bukan sekedar rutinitas biasa.

Semoga apa yang saya lakukan akan membekas pula di hati Nanami, dan semoga dia juga akan ingat, bahwa dirinya adalah permata hati yang selalu dirindukan oleh ayahnya.



12 Mar 2018

Saat saya berada jauh dari keluarga




Sebagai seorang ayah, salah satu hal terberat untuk saya adalah berada jauh dari anak-anak. Terutama di akhir pekan. Seperti kemarin misalnya, di mana hari Sabtu dan Minggu saya harus berada di tempat kerja dan meninggalkan anak-anak di rumah bersama bundanya.

Sebenarnya sih tidak terlalu gimana-gimana juga dan mereka pun sebenarnya baik-baik saja. Tapi saya akui ada rasa rindu yang bisa membuat saya sedikit meringis, terutama ketika melihat anak orang lain yang seumuran bertingkah seperti anak-anak saya di rumah.

Keberadaan anak-anak di rumah merupakan hiburan yang tak tergantikan, dan selalu saja ada hal-hal kecil yang membuat saya merindukan untuk pulang ke rumah.

Misalnya sepulang kerja Nanami selalu menyambut saya dan bertanya "Ayah bawa apa untuk Mimi?" Kalau saya tidak bawa apa-apa, dia suka pura-pura ngambek. Tapi tak lama kemudian sudah tertawa lagi dan menceritakan harinya di sekolah. Sedangkan Eiji, dia menyambut ayahnya dengan senyuman dan merangkak mendekati untuk minta digendong.

Saya akui memang ada kalanya saya merasa lelah dan menjadi tak sabar karena keinginan saya untuk memiliki sesuatu belum juga terpenuhi. Tapi berada jauh dari anak dan istri kerap menyadarkan saya bahwa kebahagiaan sebagai keluarga jauh lebih penting dari itu semua.

Dan jika diresapi lagi, kebahagiaan seperti ini tentunya tak lepas dari peran istri tercinta.

Dialah wanita hebat yang tanpa pamrih merawat anak-anak saya sampai sekarang, dan keberadaan mereka bertiga dalam hidup saya adalah karunia yang sangat indah yang Allah amanahkan kepada saya.


Berada jauh dari orang-orang terdekat merupakan hal yang tidak mudah, dan ada kalanya membuat saya meringis dan merindukan untuk bisa cepat pulang ke rumah.

Meski ada kalanya saya harus lebih bersabar untuk bisa mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi kepemilikan benda tidak akan pernah bisa menggantikan kebahagiaan bersama anak dan istri tercinta.

Merekalah yang berikan kekuatan saat saya lelah dan lemah, mereka juga yang berikan semangat ketika saya butuh perhatian dan kasih sayang, dan tentunya mereka pulalah yang berikan kedamaian saat saya pulang ke rumah.

I love you guys!

9 Mar 2018

Memilih poligami atau cukup satu saja?



Poligami acapkali menjadi topik yang sengit diperdebatkan. Banyak yang menentang, tapi tidak sedikit pula mereka yang mendukungnya.

Lalu bagaimana?

Bagi banyak wanita, poligami merupakan topik pembicaraan yang sangat sensitif dan bisa menyulut api cemburu yang luar biasa besarnya. Maka tak aneh, kalau kata poligami seolah tabu untuk dilontarkan terutama oleh para suami.

Lalu bagaimana dengan para lelaki? Well, sejauh yang saya amati, para lelaki beristri cenderung memilih diam atau senyum-senyum saja. Kalaupun menanggapi, biasanya hanya sebagai candaan belaka.

Lebih jauh lagi, para wanita juga sering memandang poligami sebagai cara bagi laki-laki untuk mendapat kenikmatan baru yang diperbolehkan oleh agama. Dari situ kemudian terbentuk persepsi bahwa poligami hanya akan membuat para wanita menjadi objek nafsu dan keserakahan laki-laki.

Saya bukanlah ahli di bidang ini, tapi kalau saya boleh berpendapat, penolakan terhadap poligami lebih banyak disebabkan oleh sifat dasar wanita yang memang sangat sulit untuk berbagi hati.

Bagi mereka, hati suami haruslah sepenuhnya untuk istri dan tidak boleh dibagi ke wanita lain. Salahkah yang demikian? Saya pikir tidak salah. Karena memang diciptakan dengan sifat dasar yang demikian. Tapi saya juga tidak pula membenarkan tindakan menentang poligami atau bahkan jadi memusuhinya.

Alasan saya sederhana saja. Poligami diperbolehkan dalam agama Islam dan Allah sendiri yang secara spesifik mengijinkannya (QS. An-Nisa':3). Kalau seperti ini, maka sudah sepatutnya kita mengedepankan kepatuhan kita terhadap apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Yaitu dengen menerima keberadaan poligami, meskipun diri kita tidak menyukainya.

Sebenarnya, kita juga tidak perlu menentang apalagi sampai memusuhi poligami. Karena ingat, poligami pada dasarnya adalah sebuah pilihan. Bukan sebuah keharusan.

Bukan pilihan menarik

Poligami memang diperbolehkan, tapi ini tidak serta-merta menjadikan poligami sebagai hal yang menarik. Dan saya percaya hal ini juga dirasakan oleh sebagai besar laki-laki.

Saya sendiri memandang seperti itu dan saya tidak mau berpoligami. Saya tidak mau berbagi hati dengan yang lain. Cukup dengan istri saya dan hanya dia.

Selain urusan hati, poligami buat saya juga merupakan sesuatu yang berat, merepotkan, mahal, dan berat tanggung jawabnya. Terutama kalau sudah bicara tanggung jawab akherat.

Jadi saya pikir, untuk apa saya mengambil beban dan tanggung jawab baru sedang apa yang sedang pikul sekarang adalah sebuah amanah yang sangat besar?

Kalaupun ada laki-laki lain yang memutuskan untuk berpoligami, maka itu adalah keputusannya dan saya yakin dia sudah siap dengan berbagai resikonya. Baik itu di dunia, maupun di akherat.

Monogami tetap lebih disukai

Saya tidak tahu pasti apakah ada data yang merekam berapa banyak jumlah pernikahan monogami vs poligami.

Tapi untuk mudahnya, lihatlah sekeliling keluarga, saudara, ataupun lingkungan kita. Saya yakin jumlah pernikahan monogami tetap jauh lebih banyak dari pernikahan poligami.

Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa sebagian besar laki-laki tetap memilih untuk menikah dengan satu orang wanita saja.

Dengan begitu, tidak perlulah kita menaruh curiga apalagi sampai memusuhi poligami. Karena toh pada kenyataannya poligami bukan sebuah pilihan menarik bagi kebanyakan laki-laki.

Dalam pandangan saya, penolakan terhadap poligami selama ini lebih disebabkan oleh penolakan emosional yang tidak lagi mempertimbangkan kepatuhan kita terhadap apa yang sudah Allah ijinkan.

Sehingga pada ujungnya kita sendiri yang tidak bisa berpikir rasional dan bersikap tidak adil pada ketetapan Allah.

Ranah pribadi

Saya meyakini bahwa Allah memperbolehkan poligami untuk kebaikan hamba-hambanya. Tapi Allah juga tahu bahwa poligami bukanlah perkara mudah, terutama untuk kaum wanita. Oleh karenanya, poligami dibuat sebagai sebuah pilihan, bukan keharusan.

Sebagai seorang hamba yang harus tunduk dan patuh terhadap apa yang diperbolehkan Allah, maka sudah sepatutnyalah kita menerima poligami di mana kita bisa memilih untuk menjalankan atau tidak menjalankan.

Saya sendiri tidak akan menentang mereka yang ingin berpoligami selama syarat-syaratnya terpenuhi, dan jika kedua belah pihak sudah saling menyetujui. Tapi saya juga tidak akan mendorong seseorang untuk berpoligami karena itu adalah ranah pribadi yang memang harus dihargai batasannya.

Ketidakadilan saat berpoligami

Saya akui memang ada saja pernikahan poligami yang bermasalah dan meninggalkan banyak luka. Baik fisik maupun mental. Dan sayangnya, itu banyak dialami oleh kaum wanita.

Tapi apapun kesalahan, kejahatan, maupun kekerasan yang terjadi dalam poligami bisa terjadi pula di pernikahan monogami. Sehingga kita tidak bisa menyimpulkan bahwa poligami adalah penyebab itu semua.

Poligami adalah sebuah wadah yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Jika kita mengikuti cara penggunaan yang benar, maka hasilnya pun akan benar. Namun jika tidak, maka hasilnya pun tidak akan membahagiakan.

Apa yang dibutuhkan kemudian adalah pendidikan agar para pelaku poligami, baik itu laki-laki maupun perempuan, memahami hak dan kewajiban mereka dalam pernikahan poligami.

Apa kewajiban suami terhadap istri-istrinya, dan apa hak istri-istri terhadap sang suami.

Jika memang tidak bisa berlaku adil, maka opsi apa yang ada pada pihak perempuan dan opsi apa yang bisa dilakukan oleh sang suami agar pernikahannya bisa dipertahankan.

Jadi menolak dan bahkan memusuhi poligami adalah cara pandang yang keliru. Kita tidak bisa menilai keluhuran nilai-nilai islam hanya dengan merujuk pada kesalahan dan kekeliruan penganutnya. Kita tetap harus merujuk pada sumber aslinya, Al-Quran dan Al-Hadist.

* * *

Poligami acapkali menjadi topik yang sengit diperdebatkan dan penolakan wanita terhadap poligami  sedikit banyak dipengaruhi oleh fitrah wanita itu sendiri di mana mereka sangat sulit untuk bisa berbagi hati.

Namun sebelum mengambil sikap terhadap poligami, kita terlebih dahulu harus memahami bahwa kepatuhan terhadap Allah berada di atas segalanya.

Di dorong oleh kepatuhan kita tersebut, maka sudah selayaknya kita menerima poligami dengan keikhlasan karena memang Allah sendiri yang memperbolehkannya. Meskipun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang disukai.

Poligami merupakan wadah yang disediakan Allah bagi hamba-hambanya. Namun bukan tanpa beban dan pertanggungjawaban. Poligami juga sebuah pilihan yang tidak selalu menarik untuk dijalani.

Namun jika poligami adalah keputusan yang diambil, maka penting bagi para pelaku poligami, baik itu laki-laki maupun perempuannya, untuk memahami hak dan kewajiban mereka dalam pernikahan model ini.

Apapun keburukkan dan kerusakan yang ada pada kasus-kasus pernikahan poligami, hal tersebut tidak serta merta menjadikan poligami sebagai sesuatu yang buruk. Karena saya meyakini, poligami diperbolehkan bukan untuk menyengsarakan, tapi justru sebagai solusi yang membahagiakan.

8 Mar 2018

Forward konten di Whatsapp group




Para pengguna Whatsapp (WA) tentunya sudah tidak asing lagi dengan Whatsapp Group (WAG). Sebuah fitur komunikasi yang memungkinkan sekelompok orang untuk berada di sebuah ruang virtual dan saling berinteraksi.

Meski WAG merupakan fitur yang mumpuni, tapi tak jarang pula keberadaannya menjadi rancu karena menjadi ajang forward konten dari para anggotanya.

Dalam sehari, saya bisa beberapa kali menerima konten hasil forward. Isinya pun suka berulang. Yang itu-itu lagi dan yang tidak jelas pula asal-usulnya. Apalagi kalau sudah dimulai dengan kalimat "Dari grup sebelah", maka ya sudahlah.

Tidak bisa diapa-apakan juga, selain dibaca atau diacuhkan saja.

Kadang saya suka bertanya-tanya. Siapakah mereka para penulis konten-konten tersebut? Bagaimana mereka bisa begitu produktif? Dan bagaimana pula orang-orang selalu terdorong untuk membagikannya di grup-grup whatsapp?

Saya akui memang ada konten-konten yang layak dibaca. Tapi tak jarang pula ada konten yang isinya biasa-biasa saja dan tetap dishare.

Ketika hal ini terjadi berulangkali, maka lama-kelamaan akan membuat semuanya terasa hambar. Bahkan konten-konten yang isinya bagus akan terasa biasa-biasa saja. Ini karena kita sudah jenuh disuguhi informasi yang berulang-ulang dan mungkin pula sebenarnya tidak diperlukan.

Layaknya di dunia nyata, rasanya kita juga perlu memperhatikan frekwensi dan relevansi konten yang akan kita bagikan di WAG. Apalagi untuk konten-konten yang sifatnya abstrak seperti kata-kata mutiara. Mungkin indah dibaca saat di awal, tapi lama-kelamaan jadi norak juga.

Bagi saya pribadi, akan lebih baik sebuah WAG terasa sepi tapi konten yang masuk memang sesuai dengan peruntukkan WAG yang bersangkutan. Dibanding WAG yang ramai tapi isinya cuma dipenuhi oleh konten hasil forward yang tidak relevan bahkan cenderung menyampah.

Meski WAG merupakan medium yang mumpuni untuk berinteraksi secara berkelompok, anggota WAG juga perlu memperhatikan dan membatasi aktifitas forward konten. Baik dari sisi frekwensi maupun relevansinya.

Karena WAG akan kehilangan esensinya kalau hanya diisi oleh konten-konten yang sebenarnya tidak diperlukan oleh mereka yang berada di dalamnya.

Jika konten hasil forward menjadi lebih dominan dari konten yang dibutuhkan oleh anggota WAG, maka jangan heran kalau perlahan-lahan para anggotanya akan keluar dari WAG tersebut.

Oleh karenanya, mari kita berpikir lebih jauh sebelum memforward sebuah konten.

Apakah konten yang akan kita bagikan memang sudah sesuai dengan tujuan dibentuknya WAG yang dimaksud, atau malah menjadi konten yang hanya akan membuat anggotanya berkata "Capek deeeh...."