Tips saat bingung memilih handphone

Salah satu belanja yang paling membingungkan adalah belanja handphone. Apalagi untuk orang yang awam tentang hape seperti saya. Banyaknya pilihan merek dengan fitur yang serupa membuat belanja hape menjadi sebuah proses yang panjang dan terkadang melelahkan.

Meskipun begitu, saya tetap menjalaninya karena dengan uang yang saya keluarkan, saya ingin mendapatkan handphone dengan fitur terbaik yang bisa memenuhi kebutuhan untuk komunikasi sehari-hari, browsing Internet, nonton YouTube, dan baca-baca media sosial.

Nah, berikut adalah hal-hal yang saya lakukan saat membeli hape beberapa waktu yang lalu. Mudah-mudahan bisa membantu Anda yang sedang bingung memilih handphone:

Tentukan budget


Ini adalah hal pertama yang harus disepakati sebelum mencari handphone. Berapa besar uang yang bisa kita belanjakan? Karena ini akan menentukan model dan merek handphone yang bisa kita beli.

Saya pribadi selalu menentukan budget membeli handphone tidak lebih dari 2,5 - 3 juta rupiah. Karena kalau sudah lebih dari itu, saya merasa harganya sudah terlalu mahal.

Anda bisa menentukan sendiri berapa besar budget yang perlu disiapkan, dan menurut hemat saya, akan lebih baik jika besarannya bisa mencukupi tanpa harus membeli dengan cicilan.

Hindari beli dengan mencicil


Handphone adalah barang yang nilainya cepat jatuh. Sebuah handphone flagship sekalipun akan terlihat "tua" dalam beberapa bulan saja karena model terbaru sudah keluar lagi. 

Untuk itu, saya tidak menyarankan untuk membeli handphone dengan cara kredit karena tidak akan sebanding dengan tenaga dan pengorbanan yang kita lakukan untuk membayar cicilannya. Untuk belanja handphone, langkah yang paling rasional menurut saya adalah dengan menabung sampai dananya mencukupi.

Baca atau tonton ulasan (review)


Setelah budget tersedia, kita sudah bisa memulai pencarian handphone yang sesuai dengan budget yang telah disiapkan.

Saya biasanya mulai dengan membuka marketplace seperti Bukalapak, Lazada, Tokopedia, dan sebagainya. Di market place tersebut, saya bisa filter semua handphone yang harganya masih dalam jangkauan budget saya. Nah, di sinlah biasanya kebingungan dimulai. Karena ternyata banyak sekali model dan merek yang ditawarkan dengan fitur yang serupa antara satu dengan yang lainnya.

Setelah mensortir, saya mulai memilih model-model handphone yang saya sukai dan membaca atau menonton ulasannya. Karena saya tidak punya preferensi pada satu merek tertentu, maka proses ini bisa memakan waktu cukup lama. Dari pengalaman saya, dari mulai mencari, membaca review, dan akhirnya memilih bisa makan waktu hingga 2-3 minggu.

Satu cara yang menurut saya patut untuk dilakukan adalah dengan mempertimbangkan model-model flagship terdahulu. Memang sudah tidak "in" lagi, tapi biasanya model-model tersebut punya spesifikasi yang lebih mumpuni dibandingkan dengan handphone-handphone baru dari merek lain.

Spesifikasi


Untuk spesifikasi, saya tidak akan terlalu spesifik. Saya hanya menyarankan pilihlah handphone dengan processor Snapdragon. Hindari membeli handphone yang menggunakan processor MediaTek (MTK) meski harganya lebih murah.

Dari pengalaman saya, handphone dengan processor MediaTek cenderung lebih panas, boros baterai, dan terlambat dalam menerima update.

Sedangkan untuk besar layar, saya menyarankan dengan ukuran 5-5,5 inchi. Lebih dari itu sudah terlalu besar meskipun lebih enak untuk dilihat. Begitu juga dengan memori, akan lebih baik memilih handphone yang punya memori di atas 2GB dan media penyimpanan setidaknya 32 GB.

Bagaimana dengan iPhone? Untuk handphone dari Apple, saya rasa itu lebih kepada pilihan. Kalau memang dana mencukupi dan ada kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh handphone lainnya, maka silakan memilih untuk membeli iPhone. Tapi kalau tidak, saya menyarankan uangnya digunakan untuk hal lainnya saja.

Handphone bekas pakai


Handphone seken bisa menjadi pilihan ketika spesifikasi yang diinginkan tidak sesuai dengan kecukupan dana.

Untuk handphone bekas pakai, saya menyarankan untuk melirik handphone kelas flagship. Meski spesifikasinya berada di bawah model yang baru, tapi tetap di atas rata-rata handphone lainnya.

Selain itu, handphone flagship seken biasanya juga menawarkan value for money yang lebih baik. Memang kita jadi berkompromi, tapi dengan uang yang dikeluarkan dan fitur yang didapat, handphone seken bisa menjadi pilihan yang menarik.

Atau...

Carilah handphone flagship yang sudah lalu tapi masih dalam kondisi baru. Meski mungkin lebih mahal dari hape flagship serupa yang seken, tapi tetap menawarkan value for money yang baik.

Tidak buru-buru


Ini mungkin bagian yang paling penting dari semuanya.

Bersabarlah dalam mencari dan tidak terburu-buru dalam memutuskan. Karena seyogyanya handphone yang kita punya sekarang masih berfungsi dengan baik, dan bisa memenuhi kebutuhan sampai handphone baru tiba.

Menunggu sambil terus mencari juga punya keuntungan, yaitu kita bisa menemukan handphone yang lebih baik dari yang kita rencanakan sebelumnya. Oleh karenanya, jangan terlalu cepat memutuskan dan beri waktu pada diri sendiri untuk mempertimbangkan handphone mana yang akan dibeli.

* * *

Salah satu belanja yang paling membingungkan adalah belanja handphone. Apalagi untuk orang yang awam tentang hape. Banyaknya pilihan merek dengan fitur yang serupa membuat belanja hape bisa menjadi lama.

Meskipun begitu, kita tetap perlu mengedepankan kehati-hatian dan bersabar. Pilihlah handphone yang sesuai dengan kemampuan dana namun tetap bisa memenuhi kebutuhan, baik itu secara teknis maupun lainnya. Selain itu, handphone seken juga bisa kita pertimbangkan jika dirasa perlu karena bisa menawarkan value for money yang baik.

Nah, kalau Anda bagaimana? Apa yang Anda lakukan ketika bingung memilih handphone yang akan dibeli?

Photo by Felipe P. Lima Rizo on Unsplash

Gorengan yang paling disukai


Rasanya tidak salah kalau saya bilang gorengan adalah cemilan paling populer di Indonesia. Bahkan mungkin sudah menjadi jajanan harian yang wajib ada bagi mereka para penikmat gorengan.

Saya sendiri termasuk orang yang suka dengan gorengan, tapi tidak sampai beli tiap hari. Hanya saat iseng atau ketika tiba-tiba ingin beli.

Nah, di dekat rumah, ada penjual gorengan dekat Alfamidi yang risolnya enak sekali. Untuk mendapatkannya, kita harus ke sana pagi-pagi karena kalau sampai kesiangan biasanya sudah habis. Yap, sebegitu populernya.

Selain risol, gorengan berikutnya yang cukup enak di situ adalah pisang dan tahu gorengnya. Saya biasanya beli 10 ribu dan minta ke Ibu untuk mencampur ketiga jenis gorengan tadi. Ibu juga menjual tempe, bakwan, dan pisang molen. Tapi sayangnya tidak menjual cireng. Padahal saya yakin kalau ada, cireng akan jadi salah satu primadona juga.

Rahasia menikmati gorengan menurut saya adalah memakannya saat masih panas. Apalagi kalau dipadu dengan cabe rawit, bikin nagih. Kalau tidak ingat yang lain, bisa-bisa habis sama diri sendiri.

Selain itu, gorengan sepertinya juga jadi cemilan pendamping saat minum kopi pagi ya? Saya sendiri kurang tahu karena bukan peminum kopi. Tapi dari apa yang teman saya ceritakan, minum kopi sambil makan gorengan terdengar begitu menggoda.

Bicara soal gorengan, ada sisi menarik yang suka jadi bahan omongan: kertas bungkusnya.

Sudah menjadi rahasia umum kalau bungkus gorengan suka menyimpan informasi-informasi penting yang sepatutnya tidak tersebar di sembarang tempat. Seperti misalnya fotokopi ijazah, surat resmi, CV, dan sebagainya.

Entah bagaimana ceritanya informasi-informasi tersebut bisa sampai tercecer sampai sebegitunya. Yang jelas, praktek buang dokumen penting seperti ini masih saja berlangsung.

Kemudian soal kebersihan.

Saya tidak tahu seberapa bersih kertas bungkusan yang digunakan oleh para pedagang gorengan. Tapi saya duga mereka juga membeli dari penjual bungkusan hasil mendaur ulang kertas bekas.  Jadi bisa dibayangkan dong?

Dilematis, tapi juga ajaib, karena dari yang saya amati selama ini konsumen sepertinya tidak terlalu memusingkan soal itu.

Mereka mungkin akan membaca sekilas, tapi tidak lebih dari itu. Karena lebih penting menikmati gorengannya daripada memperhatikan tulisan ataupun memikirkan soal kebersihan bungkusan.

Saya pribadi lebih suka bungkusan gorengan yang bagian dalamnya polos, karena terlihat lebih bersih dan tidak ada bekas tinta printer. Jadi ya, terlihat lebih aman lah. Mudah-mudahan.

Kalau Anda bagaimana? Apakah suka beli gorengan juga? Kalau iya, gorengan apa yang biasanya dibeli? Atau justru lebih senang bikin sendiri?

Sudah jomblo, jangan pula tak punya uang


Banyak yang punya pandangan kalau menjomblo itu sesuatu yang menyedihkan. Apalagi kalau orang-orang di sekeliling kita terlihat bahagia dengan pasangannya. Belum lagi kalau ada sindiran-sindiran halus namun menyakitkan. Duh, rasanya sengsara sekali hidup seorang diri.

Ah, tapi tahu tidak? Jomblo itu bukan sesuatu yang baru, dan jomblo itu ada di mana-mana. So, tidak perlulah bersedih-sedih dan menjadi murung. Justru kejombloan saat ini adalah saat terbaik untuk jadi pengusaha dan menghasilkan uang.

Tidak perlu lagi bingung ataupun gundah karena ditanya kapan nikah. Tak perlu pula mengawang-awang menunggu kekasih datang. Karena sebenarnya seorang jomblo berada di posisi yang sangat bagus untuk punya mesin uang.

Kok bisa?

Bisa dong. Karena seorang jomblo punya keuntungan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang sudah punya pasangan: waktu.

Berhubung masih jomblo, kita tidak perlu dipusingkan dengan urusan-urusan asmara yang biasanya menyita banyak waktu. Kalau lagi akur, banyak waktu yang terbuang dengan gombalan. Tapi kalau lagi ribut? Waktu habis untuk memikirkan hal-hal yang cuma membuat hati menjadi tambah kesal.

Coba bayangkan kalau waktu yang terbuang tadi digunakan untuk memasarkan produk? Atau untuk melayani pelanggan? Sudah berapa banyak peluang bisnis yang terlewatkan begitu saja karena urusan asmara?

Lalu, jomblo juga diuntungkan karena tidak punya tanggungan. Kamu tidak perlu pusing memikirkan tentang susu anak, popok, bayar tagihan listrik, cicilan, dan sebagainya. Sehingga berapa pun penghasilan kamu saat ini, kamu bisa alokasikan untuk keperluan modal dan investasi peralatan.

Beda kalau misalnya sudah berkeluarga dan punya tanggungan. Hampir bisa dipastikan sebagian besar pendapatan kita akan dibelanjakan untuk membiayai mereka yang menjadi tanggungan.

Tak hanya itu, orang yang sudah berkeluarga biasanya juga berubah menjadi lebih hati-hati (baca: takut). Mereka akan berpikir berkali-kali untuk punya usaha dan ujung-ujungnya malah tidak kesampaian. Kalau sudah begitu, cita-cita punya mesin uang tinggalah kenangan.

Tapi untuk jomblo? Seorang jomblo bisa lebih cepat jadi pengusaha karena dia punya kendali penuh dan tidak dibebani oleh pikiran-pikiran yang justru membuat ragu untuk melangkah. Seorang jomblo bisa dengan percaya diri mengatakan, “Jadi pengusaha? Ayo! Siapa takut?!”

Kalau sudah begitu, maka ketika orang lain sibuk menghabiskan uang, seorang jomblo justru punya kesempatan untuk menambah penghasilan. Ketika orang bingung bagaimana mencari tambahan uang, seorang jomblo justru punya usaha yang terus berkembang. Lalu hebatnya ketika orang pusing karena tabungannya masih saja kurang, seorang pengusaha jomblo justru sibuk buka cabang.

Wuih, beruntung sekali kalau begitu orang-orang jomblo ya?

Iya dong!

Nah, kalau seorang jomblo bisa seperti itu, apakah masih menyia-nyiakan waktu dan sibuk bersedih lantaran kekasih tak juga datang? Tidak kan? Karena kalau jomblo sudah punya pegangan, tanpa dicaripun, cinta akan bertandang dan tak mau pulang.

Memotret lansia dan refleksi diri


Saat saya berjalan kaki sambil membawa kamera, saya suka menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dan ngobrol dengan lansia yang saya temui di jalan. Ada rasa penasaran dalam diri saya untuk mengetahui tentang mereka dan bagaimana cara mereka menghadapi ujian hidup.

Ketertarikan saya untuk melakukan itu mungkin didasari oleh pencarian dalam diri saya sendiri. Pencarian untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup yang saya jalani, serta sebagai bahan renungan tentang kekuasaan Allah.

Ketika saya melihat sesosok lansia di jalan, saya tidak kuasa untuk berpikir tentang hidup saya sendiri. Kelak bila diberi kesempatan, saya pun akan menjadi tua, keriput, dan renta seperti mereka.

Akankah saya bisa lebih bijaksana ketika berada di posisi itu? Ataukah saya masih seperti sekarang, yang kerap bersikap emosional dan bertindak bodoh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akhirnya mendorong saya untuk menyapa, mengajak bicara, dan memotretnya.



Dari obrolan dengan mereka, seringkali saya temukan kekaguman atas kegigihan dalam menjalani hidup. Jawaban-jawaban mereka membuat saya terdiam dan kerap menohok keangkuhan diri saya sendiri. Terlebih saat mengetahui kondisi saya ternyata masih lebih baik dari mereka.

Alangkah malunya saya atas keluh kesah dan prasangka terhadap Sang Ilahi.

Pertemuan-pertemuan saya dengan sejumlah lansia juga mengingatkan saya akan Ayah. Sosok yang dulu kuat kesana kemari, kini makin berkeriput, melambat, dan melemah. Meski semangat dan ketegarannya masih terpancar, tapi tak terpungkiri bahwa dia sudah tak seperti yang dulu lagi.



Saya teringat ketika menemaninya potong rambut. Saat itu saya duduk di belakang dan mengamatinya diam-diam. Ada rasa sesal, iba, dan sayang yang saya rasakan saat itu. Sesal tidak bisa tinggal dekat darinya, iba melihat tubuhnya yang makin tua, dan sayang ingin menjaga dan membahagiakannya.



Jika saya diberi umur yang lebih panjang, maka menjadi tua adalah sebuah kepastian.

Saya tidak tahu apakah saya akan jadi lebih bijak di hari tua nanti, dan apakah saya bisa menjadi seorang hamba yang lebih baik lagi. Tapi yang jelas, memotret lansia membantu saya untuk lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih dalam dalam berpikir, dan lebih merenungi nikmat Allah yang diberikan kepada saya selama ini.

5 Alasan pembeli tidak mau datang lagi

Layanan konsumen memegang peranan penting dalam keberhasilan sebuah usaha. Maka tidak heran kalau perusahan-perusahaan terkemuka menaruh perhatian dan sumberdaya yang besar terhadap kualitas layanan konsumen mereka. Lalu bagaimana dengan usaha rumahan?

Tidak berbeda dengan perusahaan besar, usaha rumahan juga perlu memperhatikan kualitas layanan kepada para pembeli. Ini penting, karena konsumen yang terpuaskan, berpeluang menjadi seorang pelanggan yang setia dan jadi duta promosi melalui word of marketing (WOM).

Word of marketing adalah bentuk promosi yang tidak boleh dipandang sebelah mata oleh pemilik usaha rumahan. Karena berkembangnya sebuah usaha rumahan umumnya dimulai dari omongan mulut ke mulut para pembelinya.

Meskipun begitu, word of mouth marketing bukanlah tanpa resiko. Word of mouth marketing juga bisa menjadi sebuah bumerang apabila kekecewaan konsumen tidak mendapat perhatian yang selayaknya.

Untuk menghindari resiko tersebut, maka saya mengurutkan lima sikap yang sebaiknya dihindari oleh pelaku usaha rumahan yang berkaitan dengan layanan konsumen:

1. Mengurangi timbangan 


Mengurangi timbangan dapat diartikan secara harfiah ataupun metafor.

Mengurangi timbangan dalam artian sebenarnya adalah mengurangi jumlah takaran yang seharusnya konsumen terima, sedangkan secara metafor, adalah memberikan pernyataan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Baik itu dalam bentuk janji, promosi, ataupun garansi.

Perilaku mengurangi timbangan umumnya didorong oleh keserakahan pelaku usaha yang ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa lagi peduli dengan nilai-nilai kejujuran. Selama itu untung tanpa ketahuan, maka selama itu pula mereka melakukannya.

Bagi sebuah usaha rumahan, "timbangan" merupakan tes kejujuran yang paling mendasar karena di situlah titik awal halal haramnya keuntungan yang kita dapatkan. Jika kita selalu menempatkan kejujuran dalam menakar, maka tak hanya keuntungan yang didapat, tapi juga keberkahan rezeki dalam menjalankan usaha. Bukankah ini yang kita inginkan?

2. Kembalian permen


Saya masih suka mendapati usaha kecil yang memandang remeh kembalian permen dan menganggap enteng kekecewaan konsumen yang menerimanya. Alasan yang paling sering diberikan masih yang itu-itu saja: tidak ada kembalian.

Sebagai konsumen, kita tentu lebih menyukai kembalian dalam bentuk uang, sereceh apapun itu. Ini karena kembalian permen menohok rasa keadilan dan memberikan kesan yang tidak baik.

Kembalian permen mungkin terlihat kecil. Tapi untuk usaha rumahan, model kembalian seperti ini hanya akan meninggalkan rasa kecut di hati pembeli dan merusak image usaha yang sedang dibangun. 

Jika ini terus dipertahankan, maka konsumen akan merasa kapok dan tidak akan mengulangi belanjanya. Dan yang lebih parahnya lagi, dia tidak akan merekomendasikan usaha kita kepada yang lain.

Saya berpendapat kita lebih baik mengorbankan sedikit keuntungan daripada harus memberikan kembalian permen. Jika total harga menyulitkan untuk memberikan kembalian, maka akan lebih baik untuk membulatkan ke bawah. Misalnya dari total Rp 10,800 menjadi Rp 10,500 atau bahkan Rp 10,000 saja.

Cara di atas tidak hanya memudahkan konsumen, tapi juga memberikan rasa puas karena mendapat potongan harga. Kita sendiri sebagai pemilik usaha secara tidak langsung akan tetap diuntungkan karena image positif yang ditimbulkannya.

3. Tidak mendidik karyawan cara melayani


Saya rasa kita pernah sama-sama membaca berbagai keluhan pembeli yang kecewa karena sikap karyawan yang tidak baik. Jika ini menimpa usaha kita, maka sudah sepatutnya kita mengevaluasi diri kenapa hal tersebut bisa terjadi.

Sebagai pemilik usaha rumahan, kita mempunyai tanggung jawab mendidik para karyawan dalam menghadapi konsumen. Baik itu cara menjawab, melayani, atau bertanya. Meski mungkin pembeli kita baru saudara atau tetangga sekitar, tapi tanpa keterampilan melayani yang memadai, karyawan yang kita pekerjakan bisa memberikan kesan yang tidak diinginkan terhadap usaha kita.

Cara termudah melatih mereka adalah dengan memberikan contoh langsung kepada mereka. Libatkan karyawan saat kita sedang melayani pembeli. Kenalkan sang karyawan pada konsumen dan berikan petunjuk apa yang mesti dikerjakan. Dengan begitu diharapkan akan terbangun hubungan yang baik antara karyawan dan pembeli.

Saat waktu lengang, sampaikan pula apa yang kita harapkan dari mereka dan diskusikanlah kendala-kendala yang dihadapi mereka saat melayani. Ajak pula karyawan untuk mengemukakan solusi dari masalah yang ada. Harapannya adalah untuk menumbuhkan rasa memiliki dan lebih bertanggung jawab dengan tugas-tugas mereka.

4. Tidak siap dengan pertanyaan konsumen


Sudah tidak aneh kalau pembeli suka bertanya-tanya terlebih dahulu. Mulai dari pertanyaan umum seputar harga dan produk, sampai dengan pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya tidak nyambung.

Sebagai pemilik usaha rumahan, kita harus memahami bahwa ini adalah sebuah proses di mana pembeli sudah menunjukkan minat tapi masih perlu diyakinkan.

Untuk itu, ada baiknya kita mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dan mempersiapkan jawabannya. Dengan begitu, ada kesamaan jawaban yang diterima pembeli antara yang satu dengan yang lain.

Memiliki kumpulan jawaban untuk pertanyaan yang sering muncul akan memudahkan kita dalam melayani pertanyaan umum dan juga dalam menjawab pertanyaan seputar potongan harga. Khususnya bagi mereka yang suka menawar.

Masih terkait dengan mendidik karyawan, jawaban-jawaban yang kita sediakan juga sebaiknya disosialisasikan juga dengan karyawan. Dengan begitu, mulai dari pemilik sampai karyawan, jawaban yang diterima pembeli juga akan sama.


5. Tidak menjadi pendengar yang baik


Usaha rumahan memiliki kelebihan dibanding usaha yang sudah besar, yaitu kita bisa memberikan pelayanan yang lebih personal kepada konsumen. Cukup dengan telepon atau WhatsApp, pembeli sudah bisa bertanya langsung dengan pemilik usaha. Coba bandingkan dengan perusahaan-perusahaan besar, berapa banyak lapisan yang harus kita lalui untuk menyampaikan maksud sebagai konsumen?

Meskipun begitu, kelebihan ini juga menuntut kita untuk menjadi pendengar yang baik. Karena jika pembeli sudah merasa nyaman, bukan tidak mungkin dia akan berbagai cerita dengan kita. Baik itu yang berhubungan dengan produk kita maupun tidak. Ketika ini terjadi, maka kita suka perlu memposisikan diri sebagai teman curhat dan menjadi pendengar yang baik.

Berikanlah perhatian dan hindari kesan acuh terhadap mereka. Apa yang disampaikan mungkin saja membosankan atau tidak menarik, tapi di sinilah sebenarya kesempatan kita untuk membangun hubungan yang lebih personal dengan pembeli.

Berempatilah dengan apa yang mereka alami dan berikanlah dukungan moral dengan apa yang mereka tengah perjuangkan. Pujilah keberhasilan mereka dengan menunjukkan rasa senang dengan apa yang mereka raih.

Apabila ada keluhan, hadapilah dengan tenang. Ingat, konsumen yang mengeluh adalah konsumen yang mengeluh dengan produk-produk kita. Mungkin keluhannya menyebalkan dan tidak masuk akal, namun jika ia merasa keluhannya didengar dan ditanggapi dengan baik, maka bukan tidak mungkin dia akan menjadi pelanggan setia.

* * *

Tidak berbeda dengan perusahaan besar, usaha rumahan juga perlu memperhatikan kualitas layanan kepada para pembeli. Ini penting, karena konsumen yang terpuaskan, berpeluang menjadi seorang pelanggan yang setia dan jadi duta promosi melalui word of marketing (WOM).

Meskipun begitu, word of mouth marketing bukanlah tanpa resiko. Word of mouth marketing juga bisa menjadi sebuah bumerang apabila kekecewaan konsumen tidak mendapat perhatian yang selayaknya.

Untuk menghindari itu, kita perlu mengedepankan kejujuran dengan menjaga timbangan, menghormati pembeli dengan memberikan kembalian berbentuk uang, dan mendidik karyawan yang kita miliki. Selain itu, kemampuan kita untuk menjadi pendengar yang baik dan siap dengan pertanyaan-pertanyaan konsumen akan memberi kesan yang baik terhadap usaha rumahan yang kita bangun.

Bagaimana dengan Anda? Hal apa saja yang perlu dilakukan oleh pelaku usaha rumahan agar pembeli merasa nyaman?

Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. Saya ingin sekali mengetahui pendapat Anda.

5 tips supaya tidak bosan saat temani istri belanja


Saya percaya banyak suami akan merasa bosan saat menemani istrinya belanja. Apalagi untuk beli barang-barang kecantikan. Seperti baju, make-up, perhiasan, dan sebagainya. Itu hampir bisa dipastikan belanjanya akan lama, dan malah, bisa jadi sangat lama.

Kalau boleh memilih, tentunya akan lebih enak diam di rumah dan biarlah istri belanja dengan teman-teman wanitanya atau saudara-saudara perempuannya. Tapi apa daya, yang seperti itu biasanya jarang terjadi, dan ujung-ujungnya, suami juga yang harus menemani.

Pengalaman saya menemani istri belanja selama ini sudah cukup membuktikan kalau rasa bosan itu hampir selalu ada. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, rasa bosan itu bisa diakali supaya tidak menganggu dan membuat kita ingin cepat-cepat pulang.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:

1. Sebelum berangkat, pastikan makan tapi tidak kenyang


Perjalanan ke lokasi belanja para wanita biasanya identik dengan macet. Untuk itu, kita harus menyiapkan diri agar tidak kelaparan di jalan. Tapi ingat, secukupnya saja, dan tidak perlu sampai kenyang.

Perut yang kenyang akan membuat kita sulit saat tiba di lokasi belanja. Kenapa? Karena kita jadi tidak punya alasan atau tidak punya mood untuk mengisi perut. Selain itu, perut yang kenyang juga akan membuat kita lebih cepat mengantuk.

Makan saja secukupnya dan sisakan ruang untuk bisa menambah makanan di sana. Lebih baik menunggu sambil makan bukan? Daripada menunggu tapi cuma bisa celingak-celinguk atau main handphone.

2. Tentukan budget belanja dan hindari kartu kredit


Sepakati dulu bahwa belanja kali ini tidak akan melebihi sekian rupiah. Terutama untuk belanja produk-produk kecantikan, aksesoris, pakaian, dan turunannya. Oh, jangan lupa juga untuk menghindari penggunaan kartu kredit.

Selain bagus untuk kedisiplinan finansial, budget juga akan mendorong istri untuk belanja sesuai dengan batasan budget yang ada. Kalau batasan budget sudah jelas, biasanya dia tidak akan terlalu lama mampir di toko yang harganya melewati budget. Paling hanya tanya-tanya sebentar lalu jalan lagi. Tentunya ini mempercepat proses seleksi barang dan kita tidak perlu terjebak dengan proses tawar-menawar yang alot demi mendapatkan diskon.

Lalu bagaimana dengan kartu kredit? Saya sih tidak menyarankan ya. Karena kalau pakai kartu kredit kita akan lebih mudah tergoda dengan berbagai macam promo. Ujung-ujungnya malah membeli yang tidak perlu dan bisa jadi melebihi budget yang sudah direncanakan. Belum lagi nanti harus berkutat dengan tagihan-tagihannya.

3. Berangkat lebih awal


Berangkat lebih awal punya dua keuntungan: lebih lega, dan belum banyak toko yang buka. Oleh karenanya sebisa mungkin tiba di lokasi belanja sebelum jam buka.

Misalnya saja kalau pergi ke Thamrin City, Tanah Abanga, atau Pasar Baru di Bandung. Tiba lebih awal di lokasi akan memudahkan kita mencari parkir dan memulai hunting barang dengan lebih santai. Berbeda kalau kita datang lebih siang. Baru masuk lahan parkir saja sudah bikin bete karena susah mendapat parkir. Kalaupun pakai taksi dan sebainya, untuk tiba ke sananya juga sudah perjuangan karena macet.

4. Di lokasi belanja, jalanlah di belakang istri


Bukanlah rahasia umum kalau wanita berbelanja akan banyak mampirnya. Tidak seperti laki-laki yang cenderung langsung mencari barang yang mau dibeli. 

Nah, kalau kita berjalan di depan, jangan heran saat menengok ke belakang istri tiba-tiba menghilang. Tentunya ini membuat bingung dan kadang mengesalkan, karena kita harus mencari-cari lagi dia ada di mana.

Kalau berdasarkan pengalaman saya, raibnya istri seperti ini dikarenakan dia pit-stop tanpa kasih kabar. Berhenti di satu toko dan membiarkan saya jalan terus, dan saat saya menyadarinya, jaraknya sudah terlampau jauh. Walhasil saya harus menyusuri kembali jalan yang sudah dilalui sambil mencari-cari.

Beda kalau kita berjalan di belakang. Kita bisa mengusik istri untuk jalan terus atau mempercepat melihat-lihatnya. Mungkin akan menyebalkan untuk dia, tapi tidak apa-apa. Karena toh kalau tidak diingatkan, istri bisa keasyikan sendiri.

5. Bawa stroller yang ringan


Bagi mereka yang memiliki anak balita, membawa stroller menjadi sebuah keharusan. 

Menggendong-gendong anak sambil menemani istri belanja akan menguras tenaga kita dengan cepat. Karena ingat, membawa anak balita berarti juga harus membawa segala bentuk perlengkapannya. Mulai dari popok, susu, air, sampai baju ganti... dan ini tidak ringan.

Berbeda kalau ada stroller, di mana anak bisa diletakan di stroller dan kita tinggal mendorongnya saja. Jika dirasa perlu, tas perlengkapan juga bisa digantungkan di sana. Meringankan beban. Kalaupun anak perlu digendong, gembolan dan kantong belanja tetap bisa di letakkan di atas stroller. Tetap lebih mudah dibanding tanpa stroller.

* * *

Menemani istri belanja bagi kebanyakan suami bukanlah acara yang menyenangkan. Bahkan cenderung membosankan. Kalau boleh memilih, tentunya akan lebih enak diam di rumah saja. 

Tapi itu sudah menjadi tugas tidak resmi suami yang mau-tidak-mau harus dijalankan. Apa yang bisa dilakukan adalah mencari cara bagaimana mengurangi rasa bosan yang ada.

Dari pengalaman saya selama ini, cukup makan, tentukan budget, berangkat lebih awal, dan pantau terus kemana istri pergi, cukup membantu saya mengatasi rasa bosan. Bagi mereka yang membawa anak, membawa stroller yang ringan juga sangat bermanfaat.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda lakukan untuk mengatasi rasa bosan ketika menemani istri belanja?

Beda ember, beda nasibnya


Saat berkunjung ke pasar, saya biasanya suka mampir ke toko peralatan rumah tangga untuk melihat-lihat produk plastik yang baru. Mulai dari gayung, termos, piring, sendok, sampai ember.

Khusus untuk ember, warnanya bermacam-macam, dan yang paling sering saya lihat itu warna hitam, hijau, dan merah. Sesekali ketemu warna biru, tapi tidak pernah lihat warna kuning. Padahal kalau ada sepertinya lucu juga.

Menurut saya ember itu suka dipandang sebelah mata. Dibutuhkan, tapi suka diperlakukan seenaknya saja. Bahkan suka dikaitkan dengan perilaku negatif manusia. Lihat saja kalau ada orang yang suka gosip atau tidak bisa jaga rahasia. Pasti dibilang mulutnya ember. Bocor kemana-mana.

Padahal apa salahnya ember? Ember justru untuk menampung air biar tidak tercecer. Beda dengan tukang gosip ataupun yang tidak bisa jaga rahasia.

Anyway, saya perhatikan nasib ember juga beda-beda.

Ember yang paling sengsara menurut saya adalah ember untuk adukan semen. Mereka harus pasrah diisi adukan untuk ngecor. Setelah isinya dituang, dia juga harus sabar dilempar-lembar. Mungkin itu sebabnya ember semen dibuat seperti plintat-plintut. Mereka harus bisa fleksibel saat terima benturan.

Tapi sesabar-sabarnya ember semen, tetap saja mereka lebih cepat bocor karena perlakuan yang semena-mena.

Sebaliknya, ember untuk mandi bayi kerjanya cukup santai. Mereka mendapat perlakuan lebih baik supaya aman digunakan dan sering dibersihkan. Tak heran kalau ember bayi jadi tahan lama dan kemilaunya tetap terjaga.

Bicara soal ember, saya penasaran juga sih bagaimana ember-ember plastik itu dibuat. Sejauh yang saya tahu, setiap bentuk ember itu punya cetakan dasarnya.

Nah, setelah mencari di YouTube, saya menemukan video mesin injeksi pembuatan ember cat.  Setelah melihat videonya, saya berkesimpulan bahwa pembuatan ember sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pembuatan ember cat yang ada di video tersebut.

Oh, sebelum lupa, ember cat menurut saya adalah ember yang tidak akan khawatir jadi pengangguran. Karena selesai ngecat, mereka bisa langsung ganti pekerjaan jadi ember untuk air. Tapi kalau terpaksa sekali, mereka harus rela jadi ember untuk sampah.

Kenapa saya ngeblog soal ember? Tidak ada alasan yang jelas sebenarnya. Tapi kemarin saya melihat motor saya kotor, dan teringat betapa susahnya mencuci motor kalau tidak ada ember.

Photo by Lubomirkin on Unsplash